Most Used Categories

Tahun: 2018

CERPEN

sang sejuk

“Apakah akan berbekas?” Eliana menggeleng pelan, melirik sekilas pada kerutan di antara kedua alis putrinya. “Kuharap tidak.” Dengan hati-hati dimasukkannya gunting, plester, serta sisa kasa ke dalam kotak plastik yang tadinya adalah kotak makan. Paling tidak benda itu masih berfungsi. “Kau masih belum boleh membasahinya. Harus berapa kali kukatakan.” “Apakah masih boleh naik sepeda?” tanya Lily tak sabar. Belum sempat Eliana memberikan jawaban, Lily sudah turun; melompat dari tempat tidur. Gerakannya yang tiba-tiba membangunkan Elio,

CERPEN

Mayat, Mima

Seumpama bukan karena dua ekor kucing hitam berekor putih yang bertengkar di atap rumah, belum tentu mayat Tuk Hasan sudah ditemukan. Hari itu, seperti biasa Mima masuk lewat pintu samping; dia memang diperkenankan membawa kuncinya, karena baik Tuk Hasan apalagi Cik Loya tak pernah lagi lewat sana. Yang satu sudah tak cukup awas untuk melewati celah remang-remang dengan paving block yang mulai berlumut itu, sedang satunya terlalu berat badannya untuk sekedar berpindah dari ruang tamu

CERPEN

Terapung

“Menurutmu, jika kita jatuh, apakah akan mati?” Anwar menghentikan gerakannya menyuap sup—yang terlalu cair menurutku. Seperti biasa, dia hanya tersenyum, mengerti bahwa itu bukan pertanyaanku sebenarnya. “Ada banyak teori tentang itu.” “Tentang mati?” “Kalau itu cuma satu.” Anwar menegakkan punggung, tiga jam—dan masih terus berlanjut—di perjalanan pasti membebaninya. “Maksudku sebelumnya: apa yang bisa terjadi pada kita—manusia, sesaat setelah pesawat ini jatuh.” Aku yang tadinya bertanya sekadar membunuh bosan kini tertarik. Meski aku juga sebenarnya tertarik