Ingin Ini, Ingin Itu

Arif adalah seorang anak laki-laki kelas tiga SD yang sangat gemar membaca. Di rumahnya, ia punya sebuah lemari kecil yang khusus diberikan oleh ibunya untuk menyimpan deretan buku-buku miliknya. Arif anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur tiga tahun. Sejak saat itu, Arif tinggal bersama ibunya yang sehari-hari menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Kesulitan hidup yang mereka hadapi tidak membuat Arif berhenti membaca. Ia senang sekali jika menemukan kisah seseorang yang berhasil bangkit dari keterpurukan dan menemukan kebahagiaan dengan bekerja keras. Ibunya juga tidak pernah mempermasalahkan Arif gemar membaca. Bagi ibunya, asalkan Arif tetap rajin belajar dan senang membantu, itu sudah cukup. Dan sejauh ini Arif adalah anak yang sangat baik. Ketika teman-temannya sibuk menuntut orang tuanya untuk membelikan mainan dan bepergian ke tempat-tempat yang jauh, Arif sudah merasa sangat puas jika ia diberikan buku-buku kisah perjalanan.

Karena keseringannya membaca, Arif menjadi kebingungan dengan cita-citanya. Ia kerap menceritakan pada ibunya bahwa ia terpesona dengan pilot yang begitu gagah mengudara. Ia juga begitu kagum pada nelayan yang hidup dengan gagah dan lepas di alam luas. Tak lupa ia memimpikan menjadi seorang guru sederhana yang disayangi oleh murid-muridnya.

Suatu ketika Arif dibangunkan ibunya dari tidur malam karena ia sedang mengigau.

“Apakah yang saya katakan, Bu?” Arif meringis malu.

Ibu mengelus kepalanya dengan lembut. “Kau mengucapkan kata-kata yang tidak biasanya ibu dengar. Tapi sepertinya tentang film dan musik. Benarkah itu?”

Arif teringat buku terakhir yang ia baca di perpustakaan sekolah. Itu adalah sebuah buku tentang sutradara-sutradara film terkenal. Ia mengangguk pelan pada ibunya. “Apakah saya mengganggu tidur Ibu?”

Ibu menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tapi kau seharusnya bisa tidur dengan nyenyak sekarang. Anak seusiamu butuh istirahat yang cukup. Apalagi kau masih harus bersekolah besok. Bacalah doa sebelum tidur. Semoga kau diberikan mimpi yang indah…”

Perubahan cita-cita Arif itu terus berlanjut. Suatu hari ia pulang ke rumah dan dengan wajah bersinar-sinar mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ilmuwan hebat yang menemukan alat agar manusia bisa terbang tanpa pesawat. Ibunya yang sedang menjahit hanya tersenyum-senyum mendengarkannya bercerita.

“Saya baru saja membaca tentang hukum grativasi. Seandainya kita bisa menghilangkannya atau paling tidak mengontrolnya, maka kita akan bisa tidak terjatuh. Bukankah itu hebat, Bu?”

Ibunya hanya mengangguk, lalu mengangsurkan bungkusan pakaian padanya. “Tolong kau antarkan pakaian ini pada Bu Agustina. Ibu berjanji untuk mengantarkannya hari ini. Kau bisa membantu ibu?”

Arif memberengut karena merasa ceritanya belum tuntas. Namun melihat senyum ibunya sekejap kemudian wajahnya sudah kembali ceria. Ia bangkit dari duduknya dan mengangguk.

“Hati-hati ya, Nak…”

Suatu hari, Arif mendapatkan tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia di kelasnya. Mereka ditugaskan untuk menuliskan keinginannya di masa depan. Arif begitu bersemangat. Sekaligus kebingungan. Gurunya mengatakan ia hanya boleh memilih satu keinginan dan menuliskan alasannya. Sementara ia memiliki berjuta keinginan dalam kepalanya dan ketika ia akan memilihnya, semua jadi satu dan ia merasa pusing.

Aku ingin jadi dokter. Aku ingin jadi penulis. Aku ingin jadi pengusaha. Aku ingin jadi nelayan. Aku ingin jadi petani. Aku ingin jadi polisi. Aku ingin jadi hakim. Aku ingin jadi antariksawan. Aku ingin jadi guru. Aku ingin…

Arif menemui ibunya dan menceritakan masalahnya.

“Pilih saja salah satu. Kau bisa menyisakan yang lain dan menuliskannya jika pak guru kembali menyuruhmu membuat tugas.”

“Tapi saya bingung… saya mau menulis semuanya.”

Ibu terlihat berpikir, “Kalau begitu, tulislah sebanyak yang mampu kau tulis. Kau cukup menuliskannya sebisamu. Tidak perlu dipilih. Nanti jika harus diberikan salah satu, kau tidak perlu khawatir, toh, semua itu memang keinginanmu. Bagaimana?”

Arif mengerjap-ngerjap. Wajahnya kembali cerah. Ia senang karena bisa mendapatkan pemecahan atas masalahnya. “Terima kasih, Ibu.”

Jadilah selama beberapa hari itu Arif asyik menulis karangannya. Jika biasanya sepulang sekolah ia sempat bermain bersama temannya, sekarang ia tidak lagi melakukannya! Ia begitu bersemangat untuk menulis. Dalam tiga hari saja ia sudah menyelesaikan hampir lima belas buah karangan yang semuanya sudah ia tulis dengan rapi!

Dua hari lagi tugas mengarang itu akan dikumpulkan dan Arif sudah menumpuk tiga puluh lebih hasil tulisannya. Dalam hati ia masih ingin menambah lagi, tapi ia merasa lucu sendiri dan memutuskan bahwa itu semua sudah cukup. Ia kembali membolak-balik hasil tulisannya dan mencoba mencari salah satu yang ia rasa paling baik untuk dikumpulkan.

Hari sudah menjelang Magrib ketika ia selesai membaca seluruh hasil tulisannya. Ia sudah berhasil memilih dari tiga puluhan hingga menjadi sepuluh saja. Ia masih merasa perlu untuk menanyakan pendapat ibunya, maka ia bangkit dari kamarnya dan mencari ibunya.

Ruangan depan tempat ibunya biasa menjahit kosong. Arif mencari ke dapur. Juga tidak ada. Akhirnya Arif mengetuk pintu kamar.

“Masuklah…” terdengar suara ibunya.

Rupanya ibu sedang berbaring. Arif menyibak tirai kamar hingga mentari sore dapat menembus dan menerangi kamar.

“Apakah Ibu sakit?” Arif meraba kening ibunya. Bukan main. Panas sekali. Arif merasa gugup sekarang.

Ibu hanya mengangguk pelan. “Ibu hanya demam. Tadi pagi Ibu merasa lemas sekali.”

“Apakah Ibu ingin makan sesuatu?” Arif memijat lengan ibunya dengan lembut.

Ibunya hanya menggeleng. “Ibu hanya ingin berbaring sebentar. Ada apa, Nak? Tadi sepertinya kau mencari ibu.”

Arif terdiam. Ia tidak ingin menyusahkan ibunya. “Saya hanya mau menanyakan sesuatu tentang tugas. Tapi nanti saja.”

Ibunya mengangguk pelan tanda mengerti. “Oh ya, Ibu baru ingat. Ada beberapa pesanan jahitan yang harus diantar sore ini. Ibu sudah menyiapkannya di atas meja. Bungkusan merah diantar ke Ibu Fitri, terus juga ada pesanan Ibu Tina. Ibu sudah menuliskan namanya. Lalu yang terakhir ada punya Ibu Tantri, tapi yang ini agak jauh, kau bisa mengantarkannya, Nak?”

Arif mengangguk pelan. “Apakah Ibu tidak apa-apa jika saya tinggal?”

Ibu mengangguk dan memejamkan mata. “Pergilah sekarang. Nanti keburu malam.”

Arif bergegas pergi mengantarkan pesanan jahitan sesuai dengan yang disuruh oleh ibunya. Magrib telah tiba ketika ia selesai mengantarkan pesanan yang terakhir. Ia sempat singgah di mesjid sebelum pulang. Dalam sholatnya ia mendoakan agar ibunya baik-baik saja. Entah kenapa, perasaannya tidak begitu enak. Namun ia masih sempat memikirkan sepuluh hasil tulisannya. Kini ia sudah memilihnya menjadi lima.

Semoga Ibu bisa membantuku memutuskan yang mana satu yang akan diberikan pada Pak Guru! Demikian Arif membatin.

Ia sampai ke rumahnya ketika hari sudah benar-benar gelap dan lampu-lampu jalanan baru saja menyala. Pintu depan tidak terkunci, Arif buru-buru masuk. Namun tidak bisa menemukan ibunya di dalam kamar.

“Ibumu terjatuh di kamar mandi ketika ia akan mengambil wudhu. Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit oleh Pak RT,” demikian kata Cik Minah yang tinggal di sebelah rumahnya.

Arif mengemasi beberapa pakaian ibunya, dimasukkannya ke dalam sebuah tas kecil. Ia juga merapikan beberapa jahitan yang masih berserakan. Sebelum waktu Isya, ia sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit.

“Kau akan pergi dengan siapa?” Cik Minah tampak khawatir. “Tunggulah sebentar lagi. Ayah Imran sebentar lagi pulang. Akan kuminta agar dia mengantarmu.”

Arif mengangguk, ia duduk menunggu di depan rumah. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk kesembuhan ibunya.

Ayah Imran, suami Cik Minah datang beberapa menit kemudian. Beberapa saat kemudian mereka berdua berangkat ke rumah sakit.

“Ibumu sedang di ruang rawat intensif. Ia masih tidak sadar. Kata Dokter ia terkena serangan stroke,” jelas Pak Lukman, ia yang tadi mengantar Ibu ke rumah sakit. “Kau lebih baik pulang ke rumah saja, Nak. Besok kau harus sekolah.”

Arif menangis tanpa suara. Ia memeluk bungkusan pakaian ibunya kuat-kuat. Pak Lukman menepuk-nepuk punggungnya. “Bersabarlah, Nak.”

Arif kemudian diantar ke ruangan rawat intensif. Setelah berganti pakaian khusus untuk masuk ruangan tersebut, barulah ia boleh mendekati ibunya. Arif menggenggam tangan ibunya. Namun ibunya sedang tidak sadar. Air mata Arif mengalir tanpa bisa ditahan.

“Ibu… Saya tidak ingin apa-apa lagi…” Arif menggigit bibirnya, berusaha menahan isak tangisnya. Ia kemudian mencium tangan ibunya. “Saya hanya ingin Ibu sembuh.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s