Seminggu

“Kau memakai sendalku.” 

Itu bukan pertanyaan.

Aku memutar badan dan mendapati wajah cemberut Citra. Terpaksa kulepas sendal di kakiku. Citra kemudian pergi melengos dengan gaya yang berlebihan. Aku bergegas, setengah berlari kembali ke ‘ruko’,—singkatan untuk ruang koas1—mencari sendal milikku sendiri; hampir tak bisa kupercaya tadi Citra tidak memakai alas kaki sama sekali. 

Membuka pintu, kudapati Iqbal yang sedang bercukur, handuk menutupi bahu dari rambutnya yang terlihat masih meneteskan air. 

“Apa yang kau lakukan?!” jeritku. 

Koas memiliki ruang istirahat terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Iqbal memalingkan wajah dengan raut tak berdosa, “Kamar mandi kami sedang tidak ada air.” Bisingnya alat cukur memenuhi ruangan, sesaat aku terpaku melihat alat yang sedang bergerak-gerak di dagunya. “Berapa pasienmu? Sepertinya banyak.” 

Aku tak menggubris pertanyaan retorisnya dan buru-buru mencari sendal. “Kau melihat sendal warna merah? Yang ujungnya robek?” 

Iqbal memiringkan wajahnya sedikit, seperti mengingat-ingat. “Kalau tidak salah dipakai Lia.” 

“Oh, demi Tuhan.” Hanya tinggal dua pasang sendal di ruangan itu. “Sendalmu yang mana?” 

“Yang hitam.” 

Aku buru-buru mengenakan sisanya dan secepat kilat menutup pintu. Mood-ku sedikit rusak karena Citra yang sudah repot-repot minta ganti sendal di pagi buta di saat pasien melimpah ruah dan aku belum tidur sepicing pun sejak jam delapan malam! 

Menggeretakkan gigi, kutarik napas dalam-dalam, dan sekali lagi membaca daftar pasien yang belum kuselesaikan laporan visite2-nya untuk pagi ini. 

Tujuh pasien baru. Tujuh. 

Kupejamkan mata. 

Dan delapan pasien lama. 

Aku mencoba memetakan denah ruangan masing-masing pasien tersebut dalam kepalaku dan menetapkan rute visite yang paling efisien. Kulirik jam di pergelangan tangan. Seharusnya waktunya cukup. 

Baru aku akan melangkah saat kurasakan seseorang menggamit bahuku.

“Apakah kau menggunakan penaku?” 

Astaga, Citra!

***

Aku menarik napas lega memasuki ruang perawatan III-D karena tidak satu pun pasien di ruangan ini merupakan tanggung jawabku, yang artinya aku bisa bersandar di dinding dan memejamkan mata sembunyi-sembunyi. Telingaku menangkap sayup-sayup gumaman Pedro yang sedang menyampaikan laporannya di depan konsulen3 pagi ini, dokter Wahid. Mataku nyaris terkatup sepenuhnya ketika kurasakan seseorang menggamit sikuku. 

“Kau belum mandi?” bisiknya.  

Aku membuka mata. Daniel seperti menahan senyum memandangiku. Aku membelalakkan mata padanya—bukan urusanmu, kataku tanpa suara. Ia hanya meneruskan senyum terkulumnya. Kemudian ia mengedikkan kepala ke arah tempat tidur di sampingku, masih berbisik. “Itu pasien siapa?” 

Seorang kakek. 

Aku mengingat-ingat. “Pasien titipan, dari ruang saraf. Mereka juga kebanjiran pasien tadi malam,” jawabku sambil memanjangkan leher, berbisik di samping telinga Daniel. Meskipun begitu aku hanya mencapai lehernya karena keterbatasan tinggi badanku. Tak sengaja kuhirup parfum yang ia gunakan. 

Bagus sekali, aku merasa kotor berdiri di sampingnya. 

Kami baru mencapai tempat tidur pasien terakhir di ruangan III D ketika sekelompok koas bagian saraf memasuki ruangan diiringi Dokter Suki, konsulen visite mereka, dari ekor mataku kulihat Lovina yang menjelaskan kondisi kakek itu. 

Sepertinya kakek itu stroke4. Tapi sudah membaik. Di samping tempat tidur kulihat seorang nenek sedang duduk; kentara sekali ia kurang tidur, kepalanya terangguk-angguk saat mendengarkan dokter Suki bicara pada si kakek. Tepat di samping kakinya, tersuruk di bawah tempat tidur, kulihat satu tas kain jinjing kecil berisi pakaian yang menyembul-nyembul keluar. Selain dari tas itu, tidak kulihat ada barang lain kecuali setumpuk kecil pakaian lain di atas pangkuan si nenek. Baru kusadari bahwa sambil mengangguk-angguk tadi si nenek ternyata sedang melipat pakaian. 

Aku jadi lebih memerhatikan mereka dibanding pasien sesak-napas yang sedang dijelaskan Iqbal pada dokter Wahid. Kulihat dokter Suki menepuk-nepuk pundak si kakek dan mengatakan bahwa ia sudah bisa pulang. Si nenek tampak tersenyum, masih dengan anggukan kecilnya. Sejurus kemudian ia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas air minum yang diminta oleh si kakek. Saat membantu si kakek minum, tangannya terlihat gemetar. Keningku berkerut, memperkirakan umur pasangan tersebut. 

Sikuku kembali digamit Daniel, kali ini ia melirikku dengan tatapan tajam. Ketika kualihkan pandangan darinya, kulihat dokter Wahid sedang memberiku tatapan tak sabar. Tanpa sadar aku menganga. 

“Berapa-urine-output5pak-Sanusi.” Daniel berdesis di telingaku. Aku bisa merasakan di balik kerudungku telingaku panas, separuh karena malu dan separuh karena Daniel yang melakukannya. Dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaan tersebut sambil melirik pada Iqbal yang meringis meminta maaf karena tidak mencatat data yang telah kuberikan sebelumnya padanya. Aku hanya memutar mata dan terus menjelaskan. 

Sebelum keluar ruangan sejenak aku kembali memerhatikan pasangan renta tadi. Si nenek berusaha menyelipkan sisa pakaian yang belum ia masukkan ke dalam tas kemudian memberesi beberapa gelas dan piring plastik ke dalam kantong kresek hitam, sementara si kakek tampak kembali tidur. 

*

Sehabis visite aku bergegas mandi—ini satu-satunya waktu yang paling aman karena seusai visite seluruh perawat akan sibuk menyiapkan tambahan terapi dari masukan para konsulen, mengisi chart-chart setiap penghuni tempat tidur, hingga memastikan seluruh permintaan pemeriksaan tambahan laboratorium ataupun radiologi sudah dikirimkan; dan kami para koas akan seperti kasat mata oleh semua orang di waktu ini (yang sesungguhnya merupakan anugerah terindah). Sebelum mandi kukirim SMS kepada Lovina mengatakan ada yang ingin kutanyakan padanya, memintanya untuk bertemu di lantai satu rumah sakit saat pulang nanti. Usai mandi aku mendapati pesanku telah dibalas dan ada dua missed calls

Daniel dan Ibu. 

Aku masuk ke kamar ganti sambil membawa handphone, mendapati Citra dan Lia sedang berbagi mie goreng, bibir mereka tampak berminyak. Ruang ganti sempit itu penuh aroma makanan sekarang. 

“Kita tidak punya jadwal sampai jam 12, kan? Bisakah aku skip jadwal di poliklinik? Aku ingin tidur sebentar saja.” Kutekankan nada bicaraku pada kata sebentar. 

Citra menggeleng cepat. “Hari ini jadwal poliklinik dokter Nurul. Akan rame sekali. Kau tidak bisa skip.”

Aku memicingkan mata, otakku memikirkan bagaimana bisa ia terus mengunyah sambil mengeluarkan kalimat barusan tanpa ada kesan tersedak. Diam-diam aku memikirkan melakukan Heimlich Manuver6 pada Citra, dengan sedikit beringas tentunya.

“Tadi Daniel kemari saat kau mandi.” Lia mengulurkan sebuah kotak. Aku menerimanya. Membukanya. 

Oh. Daniel. Hatiku seperti meleleh. 

“Bagaimana kau bisa belum mandi dan belum sarapan? Apa saja kerjamu semalaman? Pasien ramai sekali?” Citra bertanya sambil menjilati sendok dan garpunya. Aku memilih tidak menjawab demi menjaga kesehatan mental. Cepat kuambil handphone dan mengirim SMS pada Daniel. 

Thanks for the breakfast. Ha-ha.

Sejurus kemudian balasannya datang. 

Baru dimakan? It’s brunch then. Nanti ke poliklinik?

Tanpa bisa kutahan wajahku memanas. Kupalingkan wajah dari Citra dan Lia.

Poliklinik. Tidak. Poliklinik. Tidak. Aduh, aku mengantuk sekali. 

Tidak. Kukirim pesan itu dengan cepat. 

*

“Kau menunggu siapa?” 

Aku tersentak bangun. Daniel memamerkan senyumnya yang bertebarkan barisan gigi nan rapi. Jasnya dipeluk di depan dada. Kuintip jam di pergelangan tanganku. Oh Tuhan, kenapa laki-laki ini selalu rapi dan wangi?

Aku mendengus, mencoba menarik napas dari kedua hidungku yang nyaris buntu. “Aku? Aku menunggu Lovina.”

“Kau bisa tidur di mana saja. Luar biasa.” 

Aku mengangguk-angguk pelan. “Kau tahu, Daniel, aku hanya memejamkan mata,” kemudian menggeleng, “bukan tidur.”

Daniel kembali tersenyum. Ia kemudian mengambil tempat di sampingku. “Aku melihatmu tidur selama sepuluh menit penuh. You’re lucky I didn’t take picture of this.” Dia memperagakan wajah bodoh dengan mata terpejam, jarinya mengisyaratkan lelehan liur dari satu sudut mulut. 

Wajahku terasa panas sekali. Dengan salah tingkah aku memeriksa isi tasku. “Oh. Ha-ha. Kau pasti melebih-lebihkan saja. Bagaimana bisa aku tidur selama itu. Haha.” Setelah tidak berhasil menemukan sesuatu yang pantas untuk kucari dari dalam tas, aku menarik selembar tisu dan mengembuskannya kuat-kuat menutupi hidung, sekalian mengusap sudut bibir. “Kau dari mana?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.

“Tadi baru selesai bimbingan referat5 dengan dokter Liliana.”

Aku mengangguk-angguk pelan. “Oh, hei. Terimakasih tadi untuk sarapannya!” 

Daniel tidak menjawabku. Aku kemudian berpaling kepadanya. Ia kemudian berkata. “Bisakah kau bersikap biasa saja? Aku hanya seseorang yang kebetulan menyukaimu. Kau tidak perlu membuatku merasa tidak enak.” 

Oh, Tuhan. 

Kurasakan darah mengalir deras dalam jumlah yang tak wajar ke kepalaku, berkumpul di wajah. Jantungku memukul-mukul keras dinding dada.

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dari hubungan kita. We’re still friend. I accepted it. You don’t like me. I am cool with that.” 

Aku memandangi jari-jariku, seperti pesakitan menunggu putusan. “Ya, but for the record, aku nggak pernah bilang ‘i don’t like you’, ya.” 

Daniel terkekeh, “Bisakah kau bersikap biasa saja? Jika kau terus seperti ini, aku akan salah mengerti.” 

Aku menghela napas panjang kemudian memiringkan tubuh padanya, tidak menatapnya secara langsung, hanya memperhatikan kedua pergelangan tangannya yang entah mengapa menurutku kokoh sekali. 

Oh Tuhan. Ampuni pikiranku. 

Kukumpulkan lagi segenap hal yang tadi ingin kukatakan. 

Aku berdeham satu kali. “Daniel. Maafkan aku. Aku mengantuk sekali.” Sialan. Aku menggeleng kuat. “Bukan itu yang ingin kukatakan. Maksudku…”  

Daniel mendorong dahiku pelan-pelan dengan pena di tangannya. Membuatku berhenti menggeleng. Ia kemudian bersandar. “Sudahlah. Kau tidak usah menjelaskan. Nanti saja.” 

Aku terdiam. Perlahan aku meliriknya. Demi Tuhan, bagaimana bisa suasananya jadi serupa dengan seminggu yang lalu?  

*

Aku baru pulang dari poliklinik dan mendapat SMS dari Ibu kalau tante Mia, tetangga sebelah rumah—dirawat di rumah sakit karena akan operasi batu kandung empedu, jadi sepulangnya dari poli aku menyempatkan diri untuk menjenguknya, ujung-ujungnya aku malah ketiduran di sofa penunggu pasien dan baru tersadar ketika sudah hampir senja. Tante Mia mengatakan ia sengaja tak membangunkanku karena sepertinya aku kecapean.

Ketika turun aku sudah kelaparan setengah mati jadi aku membeli roti sobek di cafe rumah sakit dan duduk di bangku lobi—tentunya setelah memastikan tidak ada atribut koas yang masih melekat di tubuhku. Bisa mati kalau kedapatan leyeh-leyeh makan roti di lobi saat sedang jam dinas. Meskipun tentu saja petang itu aku memang sudah lepas dari tanggung jawab. 

Saat itulah aku melihat Daniel, ia belum melihatku sampai aku meneriaki namanya dan mengacungkan roti seakan-akan itu umpan. Ia mendekat dan duduk di sampingku. Makan roti lebih banyak dari yang kutawarkan padanya. Saat kuprotes ia mengatakan bahwa ia sedang sangat kelaparan dan sedang tidak membawa uang. Aku menertawainya karena bagiku itu lucu sekali.

Seorang Daniel kelaparan dan tidak punya uang.

Daniel tentu saja protes. Tapi aku menjelaskan pendapatku, “Menurutku kau orang terakhir yang mungkin akan kelaparan. Kau bisa mengubah apa saja menjadi makanan.” 

“Menurutmu begitu?” mata Daniel terlihat bersinar. Ia menepuk-nepuk remah roti dari sela-sela jarinya. 

“Menurutku kau bisa membuatkanku sarapan setiap hari sampai aku mati. Aku tidak akan menolak.” 

“Kalau makan siang dan makan malam?”

“Untuk makan siang, kurasa selera kita sedikit berbeda, kau terlalu simpel untuk makan siangmu dan aku akan kelaparan jika makan makanan seperti itu. Tapi untuk makan malam, kurasa sudah tepat sekali, meski aku baru sekali makan masakanmu saat buka puasa bersama tahun lalu. Bisa saja kau membelinya di restoran.” Aku mengikik, hampir saja tersedak. Cepat kutenggak air minum yang sempat kubeli. 

Daniel tampak tersenyum melihatku. Aku membelalak padanya. “Kau senang aku mati tercekik roti?” 

“Aku bisa saja membuatkanmu sarapan setiap hari.” 

Aku tergelak. Mengangguk-angguk penuh semangat. “Oke-oke. Bagus sekali. Katakan saja berapa biayanya.” 

“Aku juga bisa saja masak makan siang yang cocok untuk seleramu. Dan jika makan malam sudah pas, aku rasa tidak terlalu banyak masalah.” 

Kurasa saat itu aku tertawa sampai keluar air mata. “Kau baik sekali. Aku bisa dimarahi ibumu jika sampai ketahuan membuatmu harus memasak sebanyak itu setiap hari.” 

Ibu Daniel adalah Tante Mia. Aku jadi teringat tentangnya, “Hei, kau tidak pernah cerita tentang sakit ibumu.”

Daniel hanya menggeleng-geleng pelan. “You know her. Tidak akan bilang sakit sampai benar-benar tumbang. Aku sudah curiga beberapa hari sebelum ini, tapi Ibu tidak mau disuruh periksa. Jadi ya… begitulah.” Dia mengangkat bahu, kemudian duduk bersandar. Dengan punggung tangan disekanya pinggiran bibirnya. “Tadi dia sms kalau kau baru menjenguknya. Thanks, ya.”

Aku mendengus, mengangkat bahu pelan. “Yah, semoga semuanya berjalan baik dan lancar.”

“Hei, aku bisa meminta airmu?” Daniel menghabiskan sisa roti, mengangsurkan plastik pembungkusnya padaku. Mulutnya penuh.

Aku memicingkan mata padanya. “Aku cuma punya sebotol ini.” 

“Kau harus bisa berbagi pada orang yang akan mendampingimu seumur hidupmu.” Selepas itu ia dengan enteng mengambil botol air mineral yang ada di sampingku dan menenggaknya sampai separuh habis.

Aku menatap jakunnya yang bergerak-gerak saat minum, sampai kemudian kalimatnya yang terakhir itu tercerna oleh otakku. Detik itu juga ia berhenti minum dan menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. 

“Kau melihat hantu?” ia mendorong penanya ke depan dahiku. 

Aku menarik botol air mineral dari tangannya. “Jangan katakan sesuatu yang bisa membuat orang lain salah berpikir tentangmu.” 

Ia tersenyum. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku menatapnya sejenak, sebelum kemudian menarik pandangan. “Jika aku tidak salah dengar, bisa saja aku menganggap kau baru saja mengajukan lamaran padaku.” 

“Jika aku tidak salah dengar, tadi kau yang mengatakan ingin aku memasak untukmu—seumur hidupmu.” 

Punggungku meremang. “Daniel, I was just kidding.” 

But I’m not.” 

*

“Apakah suasana ini membuatmu mengingat minggu lalu?”  

Aku memalingkan wajah padanya. “Kau sekarang bisa membaca pikiran?” tanpa bisa kutahan nada bicaraku jadi sinis. 

Daniel mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Kau ingat pasien saraf titipan tadi?”

Aku sampai terkesiap. Alasan aku menunggu Lovina sampai sesore ini adalah untuk menanyakan pasien tersebut. Entah mengapa, hatiku seperti tertambat pada mereka. Dua orang yang terlihat begitu sendiri. Namun saling memiliki. 

“Aku pernah merawat si nenek saat di bagian Jantung.” Daniel menunggu beberapa saat untuk kemudian kembali bicara. “Kau ingat pasien saraf titipan tadi tidak?”

“Teruslah bicara.” Aku memberengut padanya. Ia terkekeh. 

“Saat itu beberapa bulan lalu, aku sedang visite pagi, dan nenek itu sedang dalam kondisi sesak sekali. Ia tidak bisa berbaring. Hanya bersandar. Kutanyakan apakah ia bisa tidur tadi malam. Ia berkata bahwa ia masih bisa tidur meski hanya sebentar. Aku melihat mereka hanya punya bantal sepotong, sedangkan tempat tidur yang nenek itu gunakan tidak sepenuhnya bisa dinaikkan posisi sandarannya, sehingga jika nenek itu harus bersandar, ia tetap merasa sesak. Saat itu aku sempat bercanda pada si kakek bahwa sebagai suami yang baik, harusnya kakek berkorban meminjamkan bahunya sebagai bantal nenek. Kau tahu apa yang dijawab oleh kakek itu?”

Aku diam. Daniel menghela napas, berdeham kecil. “Kakek itu mengatakan bahwa ia bisa menahan tubuh nenek untuk bersandar, tapi tidak untuk waktu yang lama.” Daniel mendengus pelan, hidungnya seperti beringus. “Karena ia pernah kena stroke—jadi jika dia kembali dirawat saat ini, berarti stroke berulang atau semacam itu—, intinya tubuhnya tidak kuat untuk menahan tubuh si nenek terlalu lama.” 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Juga masih menerka-nerka arah pembicaraannya.

Daniel kemudian berkata lirih, “Aku serius saat mengatakan ingin menghabiskan hidup bersamamu. Saat melihatmu, aku bisa melihat masa depanku. Aku kenal denganmu sudah cukup lama. Aku ingin menjagamu saat kau sakit. Aku ingin kau yang menjagaku saat aku sakit. Meskipun tentu akan lebih baik jika tidak ada yang sakit.” Daniel cepat-cepat menambahkan kalimatnya, senyumnya tertahan, kemudian ia menggeleng. Suaranya terdengar parau saat kembali berucap, “Ketika pagi ini kembali melihat pasangan kakek-nenek itu, aku hampir menangis. Hidup mereka mungkin terlihat menyedihkan di mata orang, tapi sepenuh hati aku iri pada mereka yang saling menguatkan. Aku tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Jadi jika kau benar-benar tidak bisa, katakan sekarang dan aku akan menerimanya sebagai suatu kenyataan.” 

*

… 

Aku menatapnya sejenak, sebelum kemudian menarik pandangan. “Jika aku tidak salah dengar, bisa saja aku menganggap kau baru saja mengajukan lamaran padaku.” 

“Jika aku tidak salah dengar, tadi kau yang mengatakan ingin aku memasak untukmu—seumur hidupmu.” 

Punggungku meremang. “Daniel, I was just kidding.” 

But I’m not.” 

“Daniel… kau jangan menakutiku.” 

“Kau tidak seharusnya takut akan cinta.”

Aku menggeleng pelan dan perlahan senyumku mengembang. “Kau terlalu banyak makan roti dan sekarang bicaramu melantur. Kurasa aku harus pulang sekarang. Dan kau juga sebaiknya kembali ke kamar ibumu. Atau jaga malam. Kau sedang jaga, kan?”

Is it a ‘no’?

Aku sampai ternganga. “Demi Tuhan, Daniel. You’re my friend. One of the best. Aku tidak ingin lelucon seperti ini membuat kita jadi tidak nyaman satu sama lain.”

So now my confession is a joke?

Aku bangkit dan mengemasi jasku. Kujejalkan sisa bungkusan roti dan air mineral ke dalam tas sandangku. “Okay, kuberikan satu minggu padamu dan tunjukkan padaku bahwa ini bukan lelucon.” 

Daniel tersenyum. “Fine. One week.” Ia mengulurkan tangannya padaku. 

Aku balas tersenyum. “Oh. Please.” Kemudian bergegas pergi. Sejurus kemudian aku berbalik dan berteriak padanya. “Kau bisa memulainya dengan membuatkanku sarapan.” 

***selesai***

  1. koas; co-ass, dokter muda, sarjana kedokteran yang sedang praktik di rumah sakit untuk mendapatkan gelar dokter. 
  2. visite; kegiatan mengunjungi pasien rawat inap, meliputi pemeriksaan mendalam mengenai keluhan subjektif dan objektif pasien, serta penatalaksanaan yang sesuai untuk saat itu.
  3. konsulen; konsultan, dokter spesialis/sub-spesialis.
  4. stroke; cerebrovascular accident, cva, kondisi di mana otak mengalami gangguan suplai darah bisa karena pecahnya pembuluh darah atau tersumbatnya pembuluh darah di otak, manifestasinya sesuai fungsi otak yg terganggu suplainya.
  5. urine output; buangan/produksi urine, salah satu komponen yang diukur saat mengukur keseimbangan cairan pasien.
  6. Heimlich Manuver; prosedur pertolongan pertama pada kondisi sumbatan jalan napas dengan memberikan tekanan tiba-tiba pada area antara pusar dan ulu hati.
  7. referat; salah satu jenis tulisan/laporan, membahas topik tertentu yang disadur dari banyak referensi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s