Penjaga Langit

undefined

Tahun 2145 M. Bumi mengalami penurunan massa secara cepat. Gravitasi menghilang sampai nyaris tak ada. Manusia membuat apartemen melayang yang mampu menyuplai medan elektromagnetik untuk bertahan dari benturan sekeliling. Kecuali sulur-sulur raksasa penyerap sumber energi bumi yang tersisa, seluruh bentuk kehidupan tak lagi menjejak bumi.


“HEI! KURANGI KECEPATANMU!!”

Kedua remaja tanggung itu mengedip nakal dari balik helmnya dan melesat cepat melewati kami. Hoverboard yang mereka kendarai menyisakan berkas tipis yang menyebalkan. Beberapa detik kemudian, jauh di atas kami, kulihat mereka sedang menyusun formasi akrobatik yang rumit.

“Jangan hiraukan mereka.”

Aku berpaling dan menyeringai lemah pada partner jaga yang barusan menegurku. “Kenapa?”

“Dari desing halus hoverboard-nya, mereka pasti dari Level Satu.”

Level Satu. Uang. Kelicikan. Kebusukan.

Aku mendengus. Melirik sekali lagi pada mereka yang masih berputar-putar di atas. Privilege. 

Mencoba mengabaikan kejadian barusan, kusetel layar helm yang kukenakan. Kedipan lampu merah kecil di sudut kiri bawahnya membuatku mengumpat pelan.

“Ada apa? Kau tidak mengisi baterainya?”

Aku menggeleng. “Punya cadangan?”

Rekanku melayang mendekat, memasukkan kode-kode rumit di layar miliknya sendiri. “Kau berutang banyak padaku. Tidak ada tempat pengisian baterai di lapisan thermosfer.”

Belum sempat aku menjawabnya, kami berdua mendapatkan signal yang sama.

“Lihat!”

Aku mendongak, memastikan apa yang ditunjuk. Percuma, badai listrik dengan cepat menutup jalur pandang normal. Melayang lebih rendah menghindarinya, aku setengah berteriak membacakan voice command untuk mengaktifkan perisai pelindungku. Kulihat rekanku melakukan hal yang sama.

“Mereka masih di atas!”

Dua titik berkedip di layarku mengonfirmasi kebenarannya. Sekejap kemudian informasi tentang mereka muncul.

Oh. Tidak.

Salah satu dari mereka adalah anak Menteri Pertahanan. Rekanku mengirimkan rencana penyelamatan standar yang kusetujui. Baru saja aku melayang naik saat sebuah hoverboard tanpa pengendara menukik turun dan hampir menyambarku. Rekanku melesat mengejarnya. Aku sendiri mengubah arah dan segera terbang naik. Tanpa hoverboard, salah satu dari mereka sekarang bisa saja sudah tersedot keluar atmosfer.

ZZZZTTTT!!! ZZZZZTTTT!!!

Tubuhku kesemutan. Memaksakan perisai maksimum akan memakan energi dan itu hal terakhir yang ingin kuhadapi saat ini. Menahan napas, aku melakukan salto terbaikku selama berbulan-bulan terakhir, menghindari pusaran listrik yang terus menerjang.

Layarku kembali berkedip. Kali ini pesan suara yang masuk.

“TOLOOONG!!”

Perempuan? Aku memeriksa ulang data remaja yang tadi kuterima.

“Salah satu dari mereka adalah perempuan. Kuulangi, PEREMPUAN!”

Oh. Ini bagus sekali. Aku memaki dalam hati.

Infertilitas merupakan salah satu masalah besar dan petinggi bumi sudah menegaskan bahwa kematian seorang perempuan adalah bencana—dan bagi seorang penjaga batas bergaji rendah sepertiku, itu bisa berakibat buruk sekali.

“Bisakah kau kirim kode baterai tadi, mate?” Aku mengirim pesan.

Sederet kode masuk dan helmku mendengung seakan berterimakasih, bar hijau berpendar terang dan helmku kembali terasa bertenaga. Kuaktifkan perisai maksimal. “Aku akan menerobos!”

Rekanku mengirim persetujuan. Namun ia memperingatkanku.

LEVEL DUA BELAS.

Itu berarti aku akan memasuki wilayah tanpa jalur komunikasi dengan level di bawahku.

“Kau melihat mereka?!” 

Layarku memberi sinyal kosong. Aku memaksa terus naik menerobos pelangi mematikan yang berkeliaran.

“TOLOOONG!!”

Helmku segera mengirimkan lokasi asal pesan.

Di sana!

Kedua remaja itu berpelukan di dalam perisai maksimal yang dikeluarkan hoverboard mereka. Mereka melambai cepat melihat kedatanganku dan aku meluncur mendekat. “Aku penjaga batas, jangan panik! Hoverboard kalian akan segera dikirimkan.”

Saat itulah aku menyadari kedua remaja itu mengaktifkan mode escape-autopilot.

“Kalian akan kehabisan energi!! AP–APAA??!!!”

Hoverboard mereka ternyata dilengkapi sulur pengisap yang kini menodongku. “Tidak jika kau meminjamkan energimu.” Sulur melekat dan remaja itu mengedip dengan helm yang kini menyala hijau terang. “Bertahanlah, prajurit!!”

ZZZZTTTT!!!! ZZZZTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!

******

Picture not mine, taken from here

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.