Waktu Berhenti di Matanya

Jam berapa? Sekilas tak ada yang janggal dari jawabannya atas pertanyaanku barusan. Ia menjawab ringkas, lalu tersenyum, sebelum sekali lagi menatap jam tangannya. Yang lain mungkin mengira ia sedang memastikan jawabannya tak keliru.  Tapi aku tidak.  Aku tahu pasti alasannya. Ia sedang mengenangnya. Wanita yang pernah mengisi hatinya, dan waktunya. Aku menyadarinya saat ulang tahun hari pernikahan kami, ia menyimpan hadiah jam tangan yang kuberikan … Continue reading Waktu Berhenti di Matanya

Kasih, ini yang penghabisan.

Apa yang lebih berat daripada terus menerus mengingatmu? Terpaksa aku. Dalam tiap rinai yang basah. Aku gelisah. Tak ayal lagi rindu yang membuncah. Pecah tak berkesudah. Di bawah hujan sore itu. Waktu seakan tak pernah berlalu. Hanya ada kau… lalu aku. (1) Adam menepikan sepeda motor dengan tergesa. Bersungut-sungut dia memaki dalam hati. Joni, abangnya yang pelupa, pasti tidak langsung mengembalikan jas hujan ke dalam … Continue reading Kasih, ini yang penghabisan.

Winter Lullaby

Nathan duduk di tepian tempat tidur, memandangi lilin yang sudah lama dia tiup. Seseorang harus melakukannya jika tak ingin benda itu meleleh dan merusak tart yang susah payah dibuat ibunya. Perlahan dia bangkit, mengintip di balik pintu. Polisi masih mondar-mandir di teras dan ruang tamu. Samar-samar terdengar berisik alat komunikasi yang mereka gunakan. Dari kejauhan sirene dan suara binatang malam silih bersahutan. Jika bukan karena … Continue reading Winter Lullaby

Seminggu

“Kau memakai sendalku.”  Itu bukan pertanyaan. Aku memutar badan dan mendapati wajah cemberut Citra. Terpaksa kulepas sendal di kakiku. Citra kemudian pergi melengos dengan gaya yang berlebihan. Aku bergegas, setengah berlari kembali ke ‘ruko’,—singkatan untuk ruang koas1—mencari sendal milikku sendiri; hampir tak bisa kupercaya tadi Citra tidak memakai alas kaki sama sekali.  Membuka pintu, kudapati Iqbal yang sedang bercukur, handuk menutupi bahu dari rambutnya yang … Continue reading Seminggu

Parijan dan Tiga Batu Mirah Delima

Tidak ada efek istimewa dari batu berwarna merah darah itu. Parijan yakin benar karena dia sendiri yang memungut ketiganya dari kolong jembatan tempatnya kencing berdiri tempo hari. Belakangan memang dia sering kebelet kencing — dokter di Puskesmas pernah bilang mungkin gejala kencing manis, tetapi setelah diperiksa kencingnya baik-baik saja, dokter tersebut bilang mungkin infeksi saluran kemih. Parijan belum periksa lagi setelah obatnya habis. Apalagi kini … Continue reading Parijan dan Tiga Batu Mirah Delima

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Setengah berjongkok aku duduk di depan nisan perempuan itu. Seminggu telah berlalu sejak kepergiannya; istriku. Leukimia yang lama menggerogotinya akhirnya menang. Kudekatkan pigura yang kubawa tadi dan berbisik padanya.  “Hai.” Kuusap namanya yang tertera di nisan. Suaraku tercekat. ”Aku merindukanmu setengah mati.” ~~~  “Apa yang sedang kaulukis?” Istriku menoleh sejenak, kemudian kembali pada kanvasnya. “Lelaki tua di tengah gerimis.” Aku mengangguk pelan. Mataku menangkap foto … Continue reading Lelaki Tua di Tengah Gerimis