Most Used Categories

CERPEN

Patak Hanto*

Dengan debaran dada yang makin kencang, kau seret langkahmu mendekati salah satu toko dengan tulisan besar menyala di persimpangan jalan itu. TOKO KUDA PONY—huruf Y-nya sudah terbalik, kemungkinan lepas paku bagian atasnya. Bangunan di samping kanan-kirinya tampak gelap, membuat toko itu semakin mencolok. Beberapa puluh langkah sebelum sampai di sana, kau berhenti. Menimbang-nimbang. Menajamkan pandangan.  Kau yakin melihat sesuatu bergerak di dalam sana.  Apakah itu bayangan yang tadi? Kau sudah bersiap untuk kembali berlari.  Namun

CERPEN

Cerpen: 25

MENDUNG menggelayut rendah di tepian langit. Angin berembus semilir, cukup untuk menggoyangkan kuntum-kuntum kemboja yang mulai layu sore itu. Pekuburan lengang selayaknya tempat peristirahatan terakhir orang mati. Sampai sedan putih dengan ban berdecit itu datang. Seorang wanita separuh baya berpakaian serba hitam keluar dengan tergesa. Sendirian. Tangannya merogoh bergantian ke dalam saku mantel panjangnya seakan mencari sesuatu sedangkan langkahnya masih secepat mobilnya datang. Dia menemukan apa yang ingin dicari. Langkahnya terhenti. Wanita itu menegakkan leher

CERPEN

Terbakar

LIDAHNYA hampir terbakar.  Ia tahu teh itu panas namun tak mengira sepanas itu. Buru-buru ia meletakkan gelas dan menyeka sudut bibir. Teh sialan. Makian yang kemudian segera ia sesali karena kini berarti ia tak bisa meminumnya sama sekali.  * Sesuatu yang disumpahi akan membawa bencana. Demikian berulang ibunya katakan sambil memukul pantatnya di kamar tidur saat ia kedapatan menyentuh tubuhnya diam-diam.  Usianya tiga belas saat darah itu pertama keluar.  Roknya berwarna merah jadi ia sama

CERPEN

Apatía

Fly me to the moon, and let me play among the stars… Let me see what spring is like on Jupiter and Mars…  In other words, hold my hand. In other words, darling, kiss me… * Sayup-sayup terdengar Julie London dari speaker yang kau pasang; selain suaranya yang merayu, tak ada yang bicara. Sudah hampir lima menit kau duduk bersamanya, namun tak sepatah pun kata terucap. Hingga akhirnya kau buka suara, “Kudengar kau tak rutin

flashfiction

Sehidup Semati

“Apa kabarmu?”  Ia mengerling, mengangkat bahu.  Aku mengangguk paham, tak ada jawaban ‘baik’ bagi pesakitan, kecuali saat mereka dibebaskan.  “Aku membawakan bacaan,” kudorong bingkisan di atas meja. Kulihat ia mengerling malas di kursinya, jelas tak berminat berbincang.  “Ibu bilang kalau lagi-lagi kau tak membalas suratnya, ia akan datang sendiri.”  Kali ini ia mengangkat wajah, sejajar dengan pandanganku. Aku serasa sedang selfie dengan kamera depan berfilter buruk.  “Tak usah repot-repot.”  “Ibu ingin tahu keadaanmu.”  “Sampaikan saja