Radio

“Selamat malam,” penyiar bersuara serak itu memulai acaranya. Ini siaran favoritku. Aku mengencangkan volumenya. Meski harus berhati-hati agar tak membangunkan Mom di lantai atas. Semakin tua pendengarannya justru semakin tajam. “Pakai earphone-mu. Kita tak ingin orang lain mendengar pembicaraan kita.” Aku tersenyum malu. Penyiar itu memang senang begitu, seakan-akan pendengarnya sedang berbincang privat dengannya. Aku pasti melakukannya jika saja earphone-ku tidak disita Mom. Dia bilang aku bisa … Continue reading Radio

Kesah Penyihir

Apa yang kalian ketahui tentang penyihir? Atau, jika kusebutkan kata ‘sihir’, apa yang terlintas di benak? Hampir semua yang kutanyai sebelumnya, memberikan jawaban mengecewakan. Kisah tentang penyihir sudah begitu lama tersiar hingga kesesatannya sudah tak bisa diluruskan. Meskipun itu membantuku — dan penyihir lainnya —, untuk bisa hidup tenang dan tersembunyi; belakangan, aku hampir tak tahan lagi, ingin rasanya menampakkan wajah dan menghukum mereka yang … Continue reading Kesah Penyihir

Ingin Ini, Ingin Itu

Arif adalah seorang anak laki-laki kelas tiga SD yang sangat gemar membaca. Di rumahnya, ia punya sebuah lemari kecil yang khusus diberikan oleh ibunya untuk menyimpan deretan buku-buku miliknya. Arif anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur tiga tahun. Sejak saat itu, Arif tinggal bersama ibunya yang sehari-hari menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kesulitan hidup yang mereka hadapi tidak membuat Arif … Continue reading Ingin Ini, Ingin Itu

perempuan gila dan bayinya yang berusia seminggu

Aku mencintai perempuan gila itu. Perkara itu sudah jelas. Apakah dia membalas perasaanku, tak pernah diketahui. Tak akan pernah. Karena kini dia sudah mati. Seorang pengendara mabuk menabraknya saat dia hendak menyeberang jalan. Perempuan itu mati seketika. Peruntungan yang membuat banyak orang ternganga. Aku juga ternganga. Terlebih dengan seorang bayi berusia seminggu yang menangis kelaparan dalam pangkuan. Bayi perempuan itu. Jika dia sedang tak begitu … Continue reading perempuan gila dan bayinya yang berusia seminggu

Mayat, Mima

Seumpama bukan karena dua ekor kucing hitam berekor putih yang bertengkar di atap rumah, belum tentu mayat Tuk Hasan sudah ditemukan. Hari itu, seperti biasa Mima masuk lewat pintu samping; dia memang diperkenankan membawa kuncinya, karena baik Tuk Hasan apalagi Cik Loya tak pernah lagi lewat sana. Yang satu sudah tak cukup awas untuk melewati celah remang-remang dengan paving block yang mulai berlumut itu, sedang … Continue reading Mayat, Mima

Terapung

“Menurutmu, jika kita jatuh, apakah akan mati?” Anwar menghentikan gerakannya menyuap sup—yang terlalu cair menurutku. Seperti biasa, dia hanya tersenyum, mengerti bahwa itu bukan pertanyaanku sebenarnya. “Ada banyak teori tentang itu.” “Tentang mati?” “Kalau itu cuma satu.” Anwar menegakkan punggung, tiga jam—dan masih terus berlanjut—di perjalanan pasti membebaninya. “Maksudku sebelumnya: apa yang bisa terjadi pada kita—manusia, sesaat setelah pesawat ini jatuh.” Aku yang tadinya bertanya … Continue reading Terapung

Bonestown*

“Kau lihat ini?” Aku memalingkan wajah pada Ernesto. Sontak memicing. Anak itu sedang meringis. Memamerkan barisan giginya. Salah satunya bergerak-gerak karena didorong dengan lidah. Aku mengernyit resah. “Ini sudah hari ketiga kau melakukannya. Lakukan sekali lagi maka akan kutarik gigimu itu.” Ernesto berhenti dan menyeringai. “Tapi aku senang,” jawabnya membela diri. Dengan lengan baju dia menghapus lelehan ingus yang kini berkilat di pipinya. Aku bergidik … Continue reading Bonestown*