CERPEN

Torimodosu*

Hana menghela napas dalam. Disekanya keringat yang mengalir di kening. Siang itu terik. Ditambah lagi ia harus berdesakan di dalam angkot. Seorang bapak separuh baya tampak tenang mengisap rokok, untuk kemudian dengan lebih tenang mengembuskannya keluar. Hana menghela napas lebih dalam. Dadanya sesak tak tertahankan. Maka ketika ia melihat persimpangan jalan menuju rumahnya, ia buru-buru berkata pada sopir. “Berhenti kiri, Bang.” Ia masih harus berjalan sekitar dua ratus meter lagi. Jalan menuju rumahnya tidak termasuk