Tak Semestinya

“Yang warna hitam?” Aku mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Hendi menjulurkan kepala dari balik pintu kamar mandi. “Ya. Yang itu.” Sejurus kemudian ia keluar dari kamar mandi. Air masih menetes-netes dari rambutnya. Ia mengalungkan handuk ke leher, menjaga agar kaos putihnya tidak basah. Kemudian ia mendekati jendela, melihat ke luar. “Lama juga hujannya. Apa kita berangkat saja?” ia melirikku sekilas. Aku mengangkat bahu. … Continue reading Tak Semestinya

(bukan) kereta (mimpi) terakhir

Kau terbangun dengan sentakan yang menyakitkan. Alih-alih beristirahat dengan tenang, belakangan ini tidur telah menjadi momok yang menakutkan. Dua bulan terakhir, tepatnya. Ya, kau yakin persis karena sejak mimpi itu berulang, kau telah menandai angka-angka di kalender dengan spidol merah. Silang berarti mimpi buruk; lingkaran berarti tidak adanya mimpi — atau tidak tidur sama sekali. Kau bahkan menandai berapa kali mimpi itu datang setiap malamnya, … Continue reading (bukan) kereta (mimpi) terakhir

Torimodosu*

Hana menghela nafas dalam. Disekanya keringat yang mengalir di kening. Siang itu terik. Ditambah lagi ia harus berdesakan di dalam angkot. Seorang bapak separuh baya tampak tenang menghisap rokok, untuk kemudian dengan lebih tenang menghembuskannya keluar. Hana menghela nafas lebih dalam. Dadanya terasa sesak tak tertahankan. Maka ketika ia melihat persimpangan jalan menuju rumahnya, ia buru-buru berkata pada sopir. “Berhenti kiri, Bang.” Ia masih harus … Continue reading Torimodosu*

Pupus

“Meltendera Stonia…!!” Dari sekian banyak peruntungan yang ada di dunia Gar, ini nasib terburuk bagi para gargoyle. Sedari awal, pencampuran biji Oak yang tak genap berusia 243 hari membuatku tak sempurna. Alih-alih sayap, sepasang tulang mirip tanduk bergelambir yang justru tumbuh di tempat seharusnya sayapku berada. Jika saja kutemukan kurcaci laknat yang melakukan pencampuran keliru itu, akan kusembur ia dengan bara api. Meski semua sudah … Continue reading Pupus

Dawai Terakhir

Jika normalnya seorang bayi lahir akan menangis dan beberapa menit kemudian tembuninya keluar, maka tidak dengan Kakek. Setidaknya begitu yang kudengar dari cerita turun-temurun keluarga yang kerap diulang Ibu padaku. “Kakek lahir, dan langsung bernyanyi bersama gitarnya.” Dulu, aku selalu mencibir dan mencemooh cerita itu, sampai kemudian kakek tinggal bersama kami, tepatnya dua bulan yang lalu. Setelah kematian Nenek, usianya yang sudah lanjut tak mengizinkannya … Continue reading Dawai Terakhir

Kisah Kasih Kotek-Kotek

“Astaga, kau lihat si Petunia? Dia sudah berkotek-kotek lagi!” Oklahoma berhenti mengais-ngais dan memiringkan kepalanya. Mempertimbangkan kata-katanya sebelum berucap; dia tahu Esther hanya sedang ingin bergosip, “Bukankah baru minggu lalu dia selesai mengeram?” “Itu maksudku! Betina itu hanya pandai berbuat tapi coba kau lihat apa hasilnya. Hampir semua anaknya mati lumpuh layu!” “Saat itu sebenarnya memang sedang ada wabah, kan?” Tak ingin terlalu terpancing, Oklahoma … Continue reading Kisah Kasih Kotek-Kotek

Ingin Ini, Ingin Itu

Arif adalah seorang anak laki-laki kelas tiga SD yang sangat gemar membaca. Di rumahnya, ia punya sebuah lemari kecil yang khusus diberikan oleh ibunya untuk menyimpan deretan buku-buku miliknya. Arif anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur tiga tahun. Sejak saat itu, Arif tinggal bersama ibunya yang sehari-hari menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kesulitan hidup yang mereka hadapi tidak membuat Arif … Continue reading Ingin Ini, Ingin Itu