Most Used Categories

patak hanto harun malaia
CERPEN

Patak Hanto*

Dengan debaran dada yang makin kencang, kau seret langkahmu mendekati salah satu toko dengan tulisan besar menyala di persimpangan jalan itu. TOKO KUDA PONY—huruf Y-nya sudah terbalik, kemungkinan lepas paku bagian atasnya. Bangunan di samping kanan-kirinya tampak gelap, membuat toko itu semakin mencolok. Beberapa puluh langkah sebelum sampai di sana, kau berhenti. Menimbang-nimbang. Menajamkan pandangan. 

Kau yakin melihat sesuatu bergerak di dalam sana. 

Apakah itu bayangan yang tadi? Kau sudah bersiap untuk kembali berlari. 

Namun lagi-lagi, kau melihatnya sekilas. Kali ini cukup jelas untuk meyakinkanmu bahwa itu benar-benar manusia. 

Menengok kanan-kirimu sekali lagi, kau memantapkan hati. Semoga siapa pun itu tahu jalan keluar dari tempat keparat ini, demikian kau membatin. 

Sekelebat bayangan melintas cepat di depanmu. Membuatmu hampir terjatuh dan memaki. Lalu mengikik setelah menyadari itu hanya seekor tikus yang ukurannya memang cukup besar. Binatang itu berhenti sejenak, mengendus udara di depannya, kemudian menghilang di balik deretan tong sampah warna-warni yang berjejer rapi di samping sebuah mesin minum otomatis yang tampak berpendar disiram sorot cahaya lampu jalanan jangkung yang ada di seberangnya.

Kau sontak menelan ludah.

Antara toko di depan sana, dan mesin minum beberapa langkah di kananmu, kau menimbang-nimbang. Akhirnya, rasa haus mengalahkan penasaranmu. Lagipula aku bisa memeriksanya setelah ini, pikirmu. 

Sekaleng Coke jatuh dengan bunyi nyaring setelah kau memasukkan uangmu. Buru-buru kau mengambilnya. Baru kau sadari tanganmu gemetar saat mencoba membukanya dengan tergesa. Minuman itu mendesis ringan di tanganmu. Tak menunggu lama, kau meneguknya dengan beringas. 

Hausmu belum tuntas. Kembali kau memilih minuman yang sama. Kali ini kau sengaja menimangnya lebih lama. Buat nanti, kau membatin. 

Tong sampah di sampingmu berisik dan seekor tikus berlari keluar dari dalamnya. Mungkin tikus yang sama. Kali ini ia berlari ke arahnya datang tadi. Membuatmu ingat untuk memeriksa toko di ujung jalan sana. Melangkah gontai, kau menekan kaleng dingin di tanganmu ke dahi. Merasakan tetesan embunnya turun menyatu dengan basah keringat di lehermu.  

Saatnya keluar dari tempat busuk ini, gumammu. 

Kompleks pasar malam yang digelar akhir pekan telah lama tutup dan entah bagaimana ceritanya kau menjadi orang terakhir yang belum pulang. 

Oke, ralat sedikit. Sebenarnya kau tahu jawabannya: kau adalah salah satu petugas listrik yang disewa untuk memastikan setiap stand yang didirikan tidak mengalami masalah dengan jaringan kabel yang baru dipasang, tapi sialnya, hari ini kau sedang diare. Meskipun sudah minum obat, tetap saja tak kurang sudah tujuh kali kau bolak-balik ke kamar mandi, sejak datang ke pasar malam lepas matahari terbenam tadi. Kau sampai hapal dengan pesingnya yang menusuk, serta mural norak yang menghiasi hampir tiap jengkal dindingnya. Yang terakhir tadi, saat kembali terduduk di bibir toilet yang dinginnya membuat anusmu berkerut, kau sebenarnya sudah sangat lemas. Dehidrasi, kau berbisik dalam hati. Sempat kau putuskan akan memakai lembar terakhir dalam dompetmu untuk membeli sebotol Coke atau sejenisnya di mesin minum otomatis. Setelah ‘setoran’ terakhir ini, demikian kau berjanji. Dan kau pun bertekad untuk langsung pulang setelahnya. 

Lalu entah bagaimana ceritanya, kau ketiduran. 

Ya, kau pasti tidur sedikit terlalu lama, karena saat terbangun, keheningan nan beku yang menyapamu. Tak terdengar sedikit pun bisik-bisik serta canda menggelikan khas remaja-remaja tanggung—yang saking seringnya kau menyambangi kamar mandi, kau hapal riuhnya celetukan mereka. Satu bukti lagi bahwa kau tidur dalam waktu lama adalah jeansmu yang sudah turun ke lantai yang lembap—celana itu jadi basah dan terus terang itu sedikit menjijikkan. Mengabaikan perasaanmu, kau tetap memakainya. Toh aku akan segera pulang, kilahmu. 

Membuka pintu bilik kamar mandimu, kau hanya menemukan deretan urinoir bau tertempel di dinding, serta mural-mural norak itu. Tapi bukan itu yang membuatmu tertegun lama hingga tak berani beranjak dari tempatmu berdiri.

Ada lima kamar mandi kecil di dalam sepetak ruangan itu. Kau sedang menempati nomor lima, yang paling ujung, terjauh dari pintu masuk. Dari sana, saat sekilas berpaling, kau melihatnya. 

Sepotong bayang-bayang memanjang di lantai. 

Asalnya dari bilik pertama. Kau menyadarinya karena persis sepertimu, bayang-bayang milikmu terlihat di depanmu karena posisi lampu yang ada di belakang punggungmu. 

Namun, dari tempatmu berdiri, kau bisa melihat kalau bayang-bayang itu tak sepenuhnya seperti bayang-bayangmu. 

Dua potongan runcing seperti tanduk mencuat tinggi dari atas kepalanya. Dan saat mencoba saksama mendengarkan, kau yakin benar tak ada sedikit pun suara napas dari bilik sana. 

Bayang-bayang itu hanya membeku di lantai. 

“Anjir. Setan….”

Kau pelan-pelan memundurkan langkah. Memanjangkan kaki, mencoba menekan tuas flush. Bising air yang berpusar segera memenuhi ruangan. 

Lehermu memanjang. 

Mengintip.

Bayang-bayang itu bergeming. 

Lalu tiba-tiba lampu di atas kepalamu padam diawali redup yang ganjil. 

Satu. 

Dua. 

Tiga. 

Seluruh lampu di deretan kamar mandi itu padam. Gelap gulita mencengkeram. 

Kecuali di ujung bilik sana. 

Bayang-bayang bertanduk itu masih kaku di tempatnya.

“Permisi … Saya permisi dulu .…” suaramu bergetar, tercekat di pangkal tenggorokan. 

Kali ini, seakan mengerti, kau melihat bayang-bayang itu bergerak.

Lalu lampu terakhir ikut padam. 

Instingmu bergerak lebih cepat, membawa lari kakimu pergi. Di depan pintu masuk kau sempat terpeleset genangan air, tetapi itu tak menyurutkan langkahmu. 

Kau berlari secepat mungkin. Sejauh-jauhnya. 

Maka di sinilah kau. Kaleng minumanmu sudah tak terlalu dingin namun kau masih senang merasakan bebannya di dalam genggamanmu, dan lehermu—membuatmu tetap terjaga. Apalagi kompleks pasar malam yang kosong terasa sangat berbeda dibanding saat manusia sedang ramai-ramainya. Jalan-jalan yang tadinya terasa sempit dan kanan-kirinya penuh dengan penjual makanan kini lengang dan lapang. 

Setidaknya sudah lima kali kau memutari ruwetnya jalan-jalan kompleks yang tanahnya terasa lengket di bawah sol ketsmu, dan selalu saja ada hal baru yang kau lihat. Mungkin tadi panik, mungkin itu bukan benar-benar setan, pikirmu. Awalnya, menghibur diri seperti itu terasa menyenangkan. Apalagi kini, ketika kau sudah tidak punya beban kerja, kau bisa melihat-lihat santai deretan toko-toko suvenir dengan hiasan jendela yang cantik. Atau bangku-bangku duduk yang tampak keren dari sudut-sudut tertentu. Kau menikmati pengalaman barumu. Jarang-jarang bisa begini, batinmu. 

Namun, saat bulan dan bintang kelihatan semakin tinggi di atas kepala, dan dinginnya malam sudah mengalahkan lembapnya bokongmu, kau harus mengakui kalau kau sedikit cemas. Kembali kau memutar, mencari-cari jalan untuk keluar. 

Sialan. 

Sepertinya kau benar-benar tersesat. 

Bodoh sekali, tersesat di pasar malam, kembali kau menggerutu. 

Beberapa stand toko yang lampunya masih menyala coba kau datangi, tetapi percuma saja, karena semua sudah rapat terkunci. Tak peduli berapa lama kau menempelkan wajah di depan kaca pintu atau jendelanya, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam sana. 

Kecuali toko yang satu ini. Kau sudah berdiri tepat di depannya. Kau yakin benar tadi telah melihat sesuatu bergerak di dalam sana. Semoga benar manusia, kau berdoa.

“Permisi? Ada orang di dalam?”  

Tiba-tiba lampu kelap-kelip yang menghiasi tulisan TOKO KUDA PONY meredup. Kau mendongak waspada. 

Lalu bangunan di depanmu gelap gulita. 

Kau mundur beberapa langkah. Bersiap lari meski lututmu goyah. 

Namun sekejap kemudian lampu menyala kembali. 

Jantungmu menumbuk-numbuk dinding dada. Tapi kau sudah kepalang basah. Mungkin ini satu-satunya kesempatanmu, menemukan seseorang yang bisa ditanyai jalan pulang. 

Kau mendorong pintu itu. Tak ada pergerakan. Sekali lagi kau coba, kali ini lebih bertenaga.

Pintu membuka dengan derit yang aneh. Semerbak bau pembersih lantai menyergap hidung. Sontak kau melihat ke bawah kakimu. Air tampak tergenang dan mengalir pelan-pelan ke salah satu sudut ruangan, menghilang di balik etalase kusam berisi deretan boneka kuda poni yang tampak bosan. 

Berjingkat, kau memasuki toko itu. “Permisi …?” Kau menyadari suaramu terdengar tak seperti biasa. 

Kau memanjangkan leher, menyeberangi meja kasir, mencari sumber air yang bocor. Lalu kau melihatnya, bilik kecil di sudut sana, tersuruk di belakang tumpukan kardus-kardus yang tersusun tinggi. Kamar mandi. Benar saja, terlihat air deras melewati bawah pintu bilik. Buru-buru kau masuk dan usai mematikan kerannya yang terbuka, kau lantas menyadari bahwa sesuatu yang bergerak yang tadi kau lihat, pasti pantulan cahaya lampu di air yang tergenang. Ah, berengsek sekali. 

Tak butuh lama untuk air di lantai segera surut. Kau melirik jam dinding yang terpasang miring di atas pintu masuk. Lima belas menit lagi jam dua.

“Sial ini namanya.”

Meneguk habis minumanmu, kau melemparnya ke dalam keranjang sampah di bawah meja kasir. Dengan tanganmu yang masih sejuk kau merabai leher. Kau berkeringat luar biasa. Asal-asalan, kau tarik tali kipas angin raksasa yang menempel di langit-langit. Benda itu berputar malas dengan bising yang menjemukan. 

Kau menggeser keluar bangku kecil dari depan meja kasir. Duduk di sana.

Lalu kau melihatnya. 

Di luar jendela, di seberang sana. Seseorang sedang berdiri dan tampak menengok kanan-kiri. 

“Hei …!” sontak kau bangkit dan melambaikan tangan, berharap dia melihatmu. Bergegas kau maju, bermaksud lari ke pintu, hanya untuk terkesiap. 

Sosok itu berdiri tepat di depan lampu jalanan yang jangkung menjulang. Membuat wajahnya sulit untuk dikenali. Ia tampak merabai keningnya. Lehernya. 

Sosok itu melangkah maju. 

Keningmu berkerut. 

Merasakan dingin yang merayap di punggung. 

“Permisi? Ada orang di dalam?” teriaknya. 

Kali ini sosok itu maju dan cahaya lampu tepat menyinari wajahnya. 

Darahmu tersirap dan lututmu goyah. Berkali-kali kau mengucek mata.

Sosok tadi terus mendekat. Kali ini kau bisa melihat dengan jelas kedatangannya, memiringkan kepala, menempelkan minuman kaleng di lehernya. Kembali di depan toko ia berhenti. Dipayungi lampu jalan di belakang punggungnya, bayang-bayangnya memanjang hingga ke depan pintu. 

Spontan, kau menekan saklar lampu di samping pintu. Untuk sesaat kegelapan menyelimutimu. 

Terhuyung-huyung kau mencoba menarik pintu lebar-lebar. Sial! Sial! Tak bisa terbuka! 

Buru-buru kau kembali ke meja kasir, mencari-cari kunci. Atau apa pun untuk melindungi diri. Jantungmu seakan pindah ke perut. Mulas tak terkendali. Tapi dalam kegelapan tak mungkin ada yang bisa kau cari. 

Lalu lampu kembali menyala. 

Nanar, kau melihat sosokmu di luar sana merapat.

Setan! 

Teriakanmu terhenti di tenggorokan. Bergegas kau masuk ke bilik kamar mandi, sembunyi. 

Menutup mata. Kau berharap semua ini mimpi belaka. 

Menutup mata. Kau berteriak sekerasnya.

Membuka mata. Kau mengepalkan tanganmu yang gemetar.  

Kau merasakan air tumpah-tumpah membasahi sepatu. Merembes di celanamu. 

Kau memantapkan hati. Kali ini, semua akan kau hadapi.

Membuka pintu. 

Lorong kamar mandi gelap bau pesing berhiaskan mural norak menyambutmu. 

*** selesai ***  

*Patak Hanto; judul terinspirasi istilah ‘patak hantu/hanto’, (patak artinya sembunyi), sebuah kepercayaan masyarakat suku Banjar tentang hantu/jin yang senang menyembunyikan anak-anak yang bermain terlalu jauh ke dalam hutan, atau bermain di waktu-waktu terlarang (sore menjelang magrib, misalnya).

Tinggalkan Balasan




%d blogger menyukai ini: