Ingin Ini, Ingin Itu

Arif adalah seorang anak laki-laki kelas tiga SD yang sangat gemar membaca. Di rumahnya, ia punya sebuah lemari kecil yang khusus diberikan oleh ibunya untuk menyimpan deretan buku-buku miliknya. Arif anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur tiga tahun. Sejak saat itu, Arif tinggal bersama ibunya yang sehari-hari menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kesulitan hidup yang mereka hadapi tidak membuat Arif … Lanjutkan membaca Ingin Ini, Ingin Itu

Sepenggal Senja Punya Madi

Matahari masih berada di atas kepala saat Madi menerobos semak-semak membentang yang memisahkan jalan setapak yang tadi ia lewati dengan hamparan sawah yang sedang ia tuju. Sebenarnya jika ia terus saja berjalan mengikuti jalan setapak, ia pada akhirnya juga akan tiba ke sawahnya. Tapi ia memilih melintasi semak-semak perdu ini. Paling tidak ia akan tiba lebih cepat daripada seharusnya. Perutnya sudah berbunyi sejak lama. Pagi … Lanjutkan membaca Sepenggal Senja Punya Madi

Maaf, Membuatmu Datang Malam Ini

Mia mematikan laptop dan menutup buku di depannya dengan perasaan lelah. Diliriknya jam tangan. Lewat lima belas menit dari tengah malam. Terdengar suara ketukan kaca. Mia membalikkan badan, dilihatnya residen Hana — residen adalah istilah yang digunakan untuk dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialisasi —, sedang menjulurkan kepala dari balik pintu.  “Kau akan ke tempat Lily?” “Oh.” Mia kemudian bangkit dan menarik jas putihnya yang … Lanjutkan membaca Maaf, Membuatmu Datang Malam Ini

Kelabu Atas Langit

“Kau mau pergi?” Desingan mesin jahit itu berhenti. Aku yakin wanita itu sedang menatapku sekarang. Tapi kubiarkan saja. Kuteruskan memakai kaus kakiku. “Ada wawancara kerja.” jawabku datar. Mesin jahit tadi kembali berdesing. “Jam berapa kau akan pulang?” Aku menarik nafas panjang. Kupakai sepatuku. “Mungkin malam.” Kembali suara desingan itu berhenti. Ekor mataku menangkap bahwa wanita itu bangkit dari belakang mejanya. “Kau akan pergi sekarang?” “Ya.” … Lanjutkan membaca Kelabu Atas Langit

Di Tepi Sungai

Setiap kali melihat anak itu, aku tidak akan pernah melupakan ibunya. ♣ Namanya Hena. Aku tidak ingat persis kapan pertama kali mengenalnya. Sejauh yang bisa kukenang, ia salah satu teman bermain jika aku sedang liburan ke kampung kakek-nenek. Ia anak tetangga kakek-nenek. Dua rumah di sebelah kanan. Tepat di penghujung jalan. Aku dan Tian — sepupuku,  terbiasa melintasi rumahnya untuk mencapai anak sungai kecil tempat … Lanjutkan membaca Di Tepi Sungai

lalu kelindan

“Do you know what is the strongest spell that evil ever casted?” dia bertanya. Aku menguap lebar, lalu kembali menatap layar ponsel. “Huh?” “Tahu, nggak?” Aku menggeliat sampai gigiku gemeletuk. Mataku menangkap baris-baris cahaya lampu yang lolos dari kerai jendela. Aku hapal biasnya. Kukembalikan pandanganku ke layar, memastikan aku tak salah lihat. Masih belum subuh. Kunyalakan lampu di samping tempat tidur. “Kau menghubungiku sepagi ini … Lanjutkan membaca lalu kelindan

perempuan gila dan bayinya yang berusia seminggu

Aku mencintai perempuan gila itu. Perkara itu sudah jelas. Apakah dia membalas perasaanku, tak pernah diketahui. Tak akan pernah. Karena kini dia sudah mati. Seorang pengendara mabuk menabraknya saat dia hendak menyeberang jalan. Perempuan itu mati seketika. Peruntungan yang membuat banyak orang ternganga. Aku juga ternganga. Terlebih dengan seorang bayi berusia seminggu yang menangis kelaparan dalam pangkuan. Bayi perempuan itu. Jika dia sedang tak begitu … Lanjutkan membaca perempuan gila dan bayinya yang berusia seminggu

sang sejuk

“Apakah akan berbekas?” Eliana menggeleng pelan, melirik sekilas pada kerutan di antara kedua alis putrinya. “Kuharap tidak.” Dengan hati-hati dimasukkannya gunting, plester, serta sisa kasa ke dalam kotak plastik yang tadinya adalah kotak makan. Paling tidak benda itu masih berfungsi. “Kau masih belum boleh membasahinya. Harus berapa kali kukatakan.” “Apakah masih boleh naik sepeda?” tanya Lily tak sabar. Belum sempat Eliana memberikan jawaban, Lily sudah … Lanjutkan membaca sang sejuk

Mayat, Mima

Seumpama bukan karena dua ekor kucing hitam berekor putih yang bertengkar di atap rumah, belum tentu mayat Tuk Hasan sudah ditemukan. Hari itu, seperti biasa Mima masuk lewat pintu samping; dia memang diperkenankan membawa kuncinya, karena baik Tuk Hasan apalagi Cik Loya tak pernah lagi lewat sana. Yang satu sudah tak cukup awas untuk melewati celah remang-remang dengan paving block yang mulai berlumut itu, sedang … Lanjutkan membaca Mayat, Mima

Terapung

“Menurutmu, jika kita jatuh, apakah akan mati?” Anwar menghentikan gerakannya menyuap sup—yang terlalu cair menurutku. Seperti biasa, dia hanya tersenyum, mengerti bahwa itu bukan pertanyaanku sebenarnya. “Ada banyak teori tentang itu.” “Tentang mati?” “Kalau itu cuma satu.” Anwar menegakkan punggung, tiga jam—dan masih terus berlanjut—di perjalanan pasti membebaninya. “Maksudku sebelumnya: apa yang bisa terjadi pada kita—manusia, sesaat setelah pesawat ini jatuh.” Aku yang tadinya bertanya … Lanjutkan membaca Terapung