Most Used Categories

CERPEN

Cinta dan Sebatang Rokok

“Belum tidur?” Aku sampai menjatuhkan korek api dari tanganku. Tak kusangka Nenek masih terjaga. Ini sudah lewat satu jam dari tengah malam. Cepat kusembunyikan rokok di tangan kiriku. “Eh, belum.” Aku menggeleng. Memaksakan tersenyum. Nenek balas tersenyum. Sama sekali tidak terpaksa kelihatannya. Ia kemudian menepuk-nepuk pundakku. Aku tak berani memperkirakan maksudnya. Aku memilih untuk tinggal bersama dengan Nenek daripada harus memilih antara Ayah atau Ibu ketika mereka bercerai. Kakek sudah lama meninggal, satu hal yang

CERPEN

Kesah Penyihir

Apa yang kalian ketahui tentang penyihir? Atau, jika kusebutkan kata ‘sihir’, apa yang terlintas di benak? Hampir semua yang kutanyai sebelumnya, memberikan jawaban mengecewakan. Kisah tentang penyihir sudah begitu lama tersiar hingga kesesatannya sudah tak bisa diluruskan. Meskipun itu membantuku — dan penyihir lainnya —, untuk bisa hidup tenang dan tersembunyi; belakangan, aku hampir tak tahan lagi, ingin rasanya menampakkan wajah dan menghukum mereka yang telah menggangguku. Jadi begini, sebelum seorang penyihir resmi dinyatakan sebagai

CERPEN

Pertemuan di Kereta

“Kau paham konsekuensi semua ini, kan?” kalimat terakhir dari penyihir bermata emas itu terngiang-ngiang. “Mengubah masa lalu—sekecil apapun, akan ada balasannya. Mengubah masa depan—, kuharap tekadmu sudah benar-benar bulat, Nak. Dan waktumu tak panjang, jangan berlama-lama di sana,” kecemasan memenuhi air mukanya. Aku menelan ludah. Panik mulai memenuhi benak. Kurasakan sensasi aneh mencair di mulutku.  Aku tak sempat untuk berubah pikiran—bahkan sekiranya ingin—karena sesuatu tiba-tiba menarik rambutku naik ke atas dan aku seakan tersedot ke

CERPEN

Waktu Berhenti di Matanya

Jam berapa? Sekilas tak ada yang janggal dari jawabannya atas pertanyaanku barusan. Ia menjawab ringkas, lalu tersenyum, sebelum sekali lagi menatap jam tangannya. Yang lain mungkin mengira ia sedang memastikan jawabannya tak keliru.  Tapi aku tidak.  Aku tahu pasti alasannya. Ia sedang mengenangnya. Wanita yang pernah mengisi hatinya, dan waktunya. Aku menyadarinya saat ulang tahun hari pernikahan kami, ia menyimpan hadiah jam tangan yang kuberikan dan kembali mengenakan jam tangan lamanya.  Aku terlanjur terbiasa, ujarnya. 

CERPEN

Kasih, ini yang penghabisan.

Apa yang lebih berat daripada terus menerus mengingatmu? Terpaksa aku. Dalam tiap rinai yang basah. Aku gelisah. Tak ayal lagi rindu yang membuncah. Pecah tak berkesudah. Di bawah hujan sore itu. Waktu seakan tak pernah berlalu. Hanya ada kau… lalu aku. (1) Adam menepikan sepeda motor dengan tergesa. Bersungut-sungut dia memaki dalam hati. Joni, abangnya yang pelupa, pasti tidak langsung mengembalikan jas hujan ke dalam jok motor. Beberapa orang siswa lain juga memilih untuk berteduh.