
MENDUNG menggelayut rendah di tepian langit. Angin berembus semilir, cukup untuk menggoyangkan kuntum-kuntum kemboja yang mulai layu sore itu. Pekuburan lengang selayaknya tempat peristirahatan terakhir orang mati. Sampai sedan putih dengan ban berdecit itu datang. Seorang wanita separuh baya berpakaian serba hitam keluar dengan tergesa. Sendirian. Tangannya merogoh bergantian ke dalam saku mantel panjangnya seakan…

LIDAHNYA hampir terbakar. Ia tahu teh itu panas namun tak mengira sepanas itu. Buru-buru ia meletakkan gelas dan menyeka sudut bibir. Teh sialan. Makian yang kemudian segera ia sesali karena kini berarti ia tak bisa meminumnya sama sekali. Sesuatu yang disumpahi akan membawa bencana. Demikian berulang ibunya katakan sambil memukul pantatnya di kamar tidur saat…

“Apa kabarmu?” Ia mengerling, mengangkat bahu. Aku mengangguk paham, tak ada jawaban ‘baik’ bagi pesakitan, kecuali saat mereka dibebaskan. “Aku membawakan bacaan,” kudorong bingkisan di atas meja. Kulihat ia mengerling malas di kursinya, jelas tak berminat berbincang. “Ibu bilang kalau lagi-lagi kau tak membalas suratnya, ia akan datang sendiri.” Kali ini ia mengangkat wajah, sejajar…

Tahun 2145 M. Bumi mengalami penurunan massa secara cepat. Gravitasi menghilang sampai nyaris tak ada. Manusia membuat apartemen melayang yang mampu menyuplai medan elektromagnetik untuk bertahan dari benturan sekeliling. Kecuali para penjaga langit dan sulur-sulur raksasa penyerap sumber energi bumi yang tersisa, seluruh bentuk kehidupan tak lagi menjejak bumi. “HEI! KURANGI KECEPATANMU!!” Kedua remaja tanggung…