Most Used Categories

CERPEN

Kelabu Atas Langit

“Kau mau pergi?” Desingan mesin jahit itu berhenti. Aku yakin wanita itu sedang menatapku sekarang. Tapi kubiarkan saja. Kuteruskan memakai kaus kakiku. “Ada wawancara kerja.” jawabku datar. Mesin jahit tadi kembali berdesing. “Jam berapa kau akan pulang?” Aku menarik nafas panjang. Kupakai sepatuku. “Mungkin malam.” Kembali suara desingan itu berhenti. Ekor mataku menangkap bahwa wanita itu bangkit dari belakang mejanya. “Kau akan pergi sekarang?” “Ya.” “Sekarang?” Rahangku mengeras. “Sebentar lagi.” “Kau sudah sarapan? Mau kubuatkan

CERPEN

Di Tepi Sungai

Setiap kali melihat anak itu, aku tidak akan pernah melupakan ibunya. ♣ Namanya Hena. Aku tidak ingat persis kapan pertama kali mengenalnya. Sejauh yang bisa kukenang, ia salah satu teman bermain jika aku sedang liburan ke kampung kakek-nenek. Ia anak tetangga kakek-nenek. Dua rumah di sebelah kanan. Tepat di penghujung jalan. Aku dan Tian — sepupuku,  terbiasa melintasi rumahnya untuk mencapai anak sungai kecil tempat kami mencari udang ataupun ikan kecil yang mabuk saat air

CERPEN

lalu kelindan

“Do you know what is the strongest spell that evil ever casted?” dia bertanya. Aku menguap lebar, lalu kembali menatap layar ponsel. “Huh?” “Tahu, nggak?” Aku menggeliat sampai gigiku gemeletuk. Mataku menangkap baris-baris cahaya lampu yang lolos dari kerai jendela. Aku hapal biasnya. Kukembalikan pandanganku ke layar, memastikan aku tak salah lihat. Masih belum subuh. Kunyalakan lampu di samping tempat tidur. “Kau menghubungiku sepagi ini hanya untuk menanyakan itu?” Dia tertawa di seberang sana, matanya

CERPEN

perempuan gila dan bayinya yang berusia seminggu

Aku mencintai perempuan gila itu. Perkara itu sudah jelas. Apakah dia membalas perasaanku, tak pernah diketahui. Tak akan pernah. Karena kini dia sudah mati. Seorang pengendara mabuk menabraknya saat dia hendak menyeberang jalan. Perempuan itu mati seketika. Peruntungan yang membuat banyak orang ternganga. Aku juga ternganga. Terlebih dengan seorang bayi berusia seminggu yang menangis kelaparan dalam pangkuan. Bayi perempuan itu. Jika dia sedang tak begitu gila, perempuan itu memang cukup pintar untuk sekedar membuat seseorang

CERPEN

sang sejuk

“Apakah akan berbekas?” Eliana menggeleng pelan, melirik sekilas pada kerutan di antara kedua alis putrinya. “Kuharap tidak.” Dengan hati-hati dimasukkannya gunting, plester, serta sisa kasa ke dalam kotak plastik yang tadinya adalah kotak makan. Paling tidak benda itu masih berfungsi. “Kau masih belum boleh membasahinya. Harus berapa kali kukatakan.” “Apakah masih boleh naik sepeda?” tanya Lily tak sabar. Belum sempat Eliana memberikan jawaban, Lily sudah turun; melompat dari tempat tidur. Gerakannya yang tiba-tiba membangunkan Elio,