Most Used Categories

CERPEN

Ingin Ini, Ingin Itu

Arif adalah seorang anak laki-laki kelas tiga SD yang sangat gemar membaca. Di rumahnya, ia punya sebuah lemari kecil yang khusus diberikan oleh ibunya untuk menyimpan deretan buku-buku miliknya. Arif anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur tiga tahun. Sejak saat itu, Arif tinggal bersama ibunya yang sehari-hari menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kesulitan hidup yang mereka hadapi tidak membuat Arif berhenti membaca. Ia senang sekali jika menemukan kisah seseorang yang

CERPEN

Sepenggal Senja Punya Madi

Matahari masih berada di atas kepala saat Madi menerobos semak-semak membentang yang memisahkan jalan setapak yang tadi ia lewati dengan hamparan sawah yang sedang ia tuju. Sebenarnya jika ia terus saja berjalan mengikuti jalan setapak, ia pada akhirnya juga akan tiba ke sawahnya. Tapi ia memilih melintasi semak-semak perdu ini. Paling tidak ia akan tiba lebih cepat daripada seharusnya. Perutnya sudah berbunyi sejak lama. Pagi tadi ia memang terburu-buru sehingga tak sempat mengisi perut. Ia

CERPEN

Maaf, Membuatmu Datang Malam Ini

Mia mematikan laptop dan menutup buku di depannya dengan perasaan lelah. Diliriknya jam tangan. Lewat lima belas menit dari tengah malam. Terdengar suara ketukan kaca. Mia membalikkan badan, dilihatnya residen Hana — residen adalah istilah yang digunakan untuk dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialisasi —, sedang menjulurkan kepala dari balik pintu.  “Kau akan ke tempat Lily?” “Oh.” Mia kemudian bangkit dan menarik jas putihnya yang tersampir di sandaran kursi. “Aku belum memutuskan.” Hana mengangkat sebelah

CERPEN

Kelabu Atas Langit

“Kau mau pergi?” Desingan mesin jahit itu berhenti. Aku yakin wanita itu sedang menatapku sekarang. Tapi kubiarkan saja. Kuteruskan memakai kaus kakiku. “Ada wawancara kerja.” jawabku datar. Mesin jahit tadi kembali berdesing. “Jam berapa kau akan pulang?” Aku menarik nafas panjang. Kupakai sepatuku. “Mungkin malam.” Kembali suara desingan itu berhenti. Ekor mataku menangkap bahwa wanita itu bangkit dari belakang mejanya. “Kau akan pergi sekarang?” “Ya.” “Sekarang?” Rahangku mengeras. “Sebentar lagi.” “Kau sudah sarapan? Mau kubuatkan

CERPEN

Di Tepi Sungai

Setiap kali melihat anak itu, aku tidak akan pernah melupakan ibunya. ♣ Namanya Hena. Aku tidak ingat persis kapan pertama kali mengenalnya. Sejauh yang bisa kukenang, ia salah satu teman bermain jika aku sedang liburan ke kampung kakek-nenek. Ia anak tetangga kakek-nenek. Dua rumah di sebelah kanan. Tepat di penghujung jalan. Aku dan Tian — sepupuku,  terbiasa melintasi rumahnya untuk mencapai anak sungai kecil tempat kami mencari udang ataupun ikan kecil yang mabuk saat air