Sepotong bayang-bayang jatuh dengan bunyi plop yang janggal di pangkuanmu sore itu.
Mula-mula kau mengira itu hanya daun kering. Namun ketika menunduk, tak ada tangkai, tak ada tulang, atau sekelumit bekas hidup yang mudah kau kenali. Hanya sepotong gelap yang menggeliat pelan, licin seperti kulit belut, tipis seperti sutera yang dipotong dengan pisau sangat tajam.
Penasaran, kau pun mendongak. Mencari-cari asalnya di atas kepalamu.
Di langit-langit, pandanganmu justru tertumbuk padanya: seekor kupu-kupu besar tersentak-sentak, mencoba kabur dari belitan jaring laba-laba. Sayapnya bergetar tanpa suara. Warna-warnanya sudah pudar, hanya tampak sisa biru dan jingga, sisa sesuatu yang rasanya pernah kau kenali. Sementara itu, sang laba-laba meluncur tenang dari sudut gelap. Ia tak tergesa-gesa. Barangkali karena ia tahu, segala yang terjerat pada akhirnya akan berhenti melawan.
Tentu laba-laba itu tak memperhitungkan campur tanganmu.
Dengan serta-merta kau melemparkan bayang-bayang yang tadi jatuh di pangkuanmu ke langit-langit. Bayang-bayang itu meluncur cepat, menebas putus beberapa ruas jaring, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi basah. Kupu-kupu bersayap biru jingga itu oleng sejenak. Tubuhnya turun, naik, miring, nyaris menabrak dinding, sebelum akhirnya kembali menguasai sayapnya.
Ia melayang di hadapanmu.
Sebentar saja.
Seolah ingin mengingat wajahmu.
Kembali, kau teringat pada warna pudar di sayapnya, sisa sesuatu yang rasanya pernah kau kenali.
Lalu ia terbang keluar melalui pintu. Kau tak benar-benar ingat pernah membukanya.
Sebaliknya, laba-laba segera bergegas naik. Dari sudut langit-langit ia memperhatikanmu dengan beberapa pasang matanya. Tatapannya berpindah cepat: padamu, pada jaringnya yang robek, pada bayang-bayang di lantai, lalu kembali padamu. Tak ada amarah di sana. Setidaknya itu yang kau rasakan. Hanya kesabaran yang menakutkan.
Seperti seseorang yang tahu bahwa semua yang lepas hari ini, kelak akan kembali juga.
Kau ingin mengatakan sesuatu.
Maaf, mungkin?
Bukan maksudku begitu.
Atau…
Sebelum mulutmu sempat memilih kebohongan yang paling ringan, sepotong bayang-bayang lain jatuh. Kali ini dengan bunyi lebih pelan.
Seperti nama yang dipanggil dari kejauhan.
Kau merunduk. Memungutnya.
Di tanganmu, bayang-bayang itu seumpama kain basah yang gelisah dengan tepian tajam terasah. Sempat kau berpikir betapa beruntungnya karena benda itu tak menebas putus pergelangan kakimu. Lalu, perlahan, bayang-bayang itu berubah bentuk. Menyerupaimu. Sesosok manusia yang sedang duduk bersantai di teras depan, seolah sore masih sore, rumah masih rumah, dan dunia belum lama runtuh karena orang-orang sepertimu memilih pergi lebih dulu.
Bayang-bayang pertama yang tadi jatuh ke lantai ikut beringsut. Ia menaiki betismu, memeluk lututmu, lalu diam di sana seperti anak kecil yang kelelahan menangis.
Tentu saja bayang-bayang aslimu tak terima.
Kau bisa melihatnya tampak resah di dinding depan yang catnya mulai mengelupas. Ia memanjang sampai ke tepian pintu, patah di sudut lantai, lalu menggantung dengan wujud yang menyedihkan. Selama ini ia selalu mengikutimu, bahkan ketika kau berpura-pura tak sedang melarikan diri. Bahkan ketika orang-orang di bawah sana masih mengular membeli air, mengantre obat, menunggu giliran untuk diselamatkan. Bahkan ketika kau menandatangani namamu di kertas keberangkatan dengan tangan yang tak gemetar.
Sebab gemetar, pikirkanlah, hanya milik mereka yang tak punya pilihan.
Kau punya pilihan.
Itu yang paling mengganggumu.
Di depanmu, senja turun pelan-pelan, membawa jingga yang bercampur bintik-bintik halus keemasan. Debu petang melayang di udara. Matamu berpindah dari kanan ke kiri, menyeberangi halaman luas yang punggungnya menggelap dan terlihat basah, meski sebenarnya kering kerontang. Di ujung sana, bukit-bukit dan kubah-kubah meluruh, saling rengkuh. Bumi, atau apa pun itu namanya, mengerut seperti kulit reptil tua yang terlalu lama dijemur.
Dulu kau berkata, tak ada gunanya bertahan.
Dulu kau pikir, toh yang tinggal hanya reruntuhan.
Dulu kau bilang, semua orang yang punya akal (dan pikirannya jalan) seharusnya mencari jalan pergi.
Tapi yang kau maksud dengan semua orang, tentu saja bukan semua orang.
***
Malam makin larut, dan kau masih betah dalam duduk diammu. Lagipula tak ada lagi yang perlu kau lakukan. Hari ini sudah kau putuskan untuk mengakhiri hidupmu yang terlanjur panjang. Atau mungkin hidupmu sudah berakhir sejak tadi. Kau tak terlalu yakin. Di tempat ini, batas antara masih hidup dan sudah mati tipis sekali, setipis kafan yang pernah kau lihat terbentang di atas meja besi, sebelum seseorang buru-buru menutup pintu.
Seharusnya sudah sejak beberapa waktu lalu kau mati.
Namun kali ini, kau pastikan itu benar-benar terjadi.
Makanan terakhir telah kau habiskan tadi pagi. Air yang tersisa telah kau minum dengan cara seseorang menelan pengakuan: sedikit-sedikit, tak membuat lega.
Kau juga yakin tak ada siapa-siapa lagi yang tersisa di tanah ini.
Semua mati.
Kecuali kau, tentunya.
Dan kupu-kupu tadi.
Dan laba-laba yang kini mulai kembali menjalin jaringnya yang entah terbuat dari apa.
Tak penat ia bolak-balik kanan-kiri, maju-mundur, memilin sesuatu yang keluar dari lubang di perutnya (atau ujung perut? Entahlah). Benangnya berkilau, tipis, nyaris indah. Sejenak kau terpikir seperti apa akhir kehidupan mereka berdua. Siapa yang akan lebih dulu mati: kupu-kupu yang kau lepaskan, atau laba-laba yang sarangnya kau rusak? Laba-laba itu seperti paham isi pikiranmu. Ia menggoyang jaringnya, dan setitik benang kental menjulur.
Terus menipis.
Ujungnya berkilau seperti embun yang telah lama tak kau lihat, tetapi benakmu menyimpan kenangan tentangnya.
Diam-diam kau tersenyum.
Sempat kau tergoda untuk melemparkan sepotong bayang-bayang yang memeluk lututmu.
Namun kau urungkan niat itu.
Buang-buang waktu, pikirmu.
Atau barangkali kau hanya sudah terlalu lelah menjadi penyelamat kecil bagi sesuatu yang tak akan pernah bisa menyelamatkanmu kembali.
Kau putuskan untuk memikirkan sisa menitmu yang tertinggal. Meski kalau dipikir-pikir, kau sebenarnya belum memutuskan cara seperti apa yang akan kau pakai untuk menjemput kematian. Tentu akan tersiksa jika mati karena kelaparan.
Atau lebih tepatnya kehausan.
Belum apa-apa kau bergidik memikirkannya.
Bayang-bayang di lututmu memeluk erat.
***
Kau sempat cukup lama bertahan sendirian. Menyimpan makanan. Mengirit minuman. Berpura-pura akan bisa memperbaiki pesawatmu yang hancur berantakan saat mendarat di tanah gersang ini. Cukup lama kau melakukannya: bertahan. Sementara yang lain berjatuhan.
Semua berawal ketika satu demi satu mereka pergi, dan tak kembali.
Jika dibilang mati, sebenarnya kau sudah cukup mengerti. Tapi kepergian rombongan manusia tempo hari terkesan ditutup-tutupi. Kau melihat mereka dibungkus erat-erat hingga melihatnya membuatmu sesak napas. Foto-foto mereka saat dikuburkan (atau ditimbun? Entahlah) menyebar. Nama-nama mereka dibacakan dengan suara yang dibuat setegas mungkin, seolah kesedihan akan bubar kalau dieja secara administratif.
Tapi benarkah demikian?
Desas-desus mengatakan bahwa mereka sebenarnya pindah ke bulan.
Ya, bulan.
Benda bercahaya di langit bumi, yang ternyata bisa dicapai dengan menggali terowongan rahasia di bawah rumah masing-masing. Kedengarannya sederhana, tapi sebenarnya tak juga. Hampir sama seperti jaring laba-laba yang sekilas hanya untaian benang biasa, namun sejatinya merupakan perwujudan mahakarya matematika. Sempat kau coba untuk menggali terowonganmu sendiri, tapi terlalu mahal biayanya. Dan terlalu besar risikonya. Semakin dalam sumur yang kau gali, semakin sedikit udara yang bisa kau beri bagi sel-sel di dalam kepalamu. Belum lagi risiko kebocoran lahar yang tentu bukan perkara sederhana.
Karena itulah kau memilih jalur resmi negara.
Kau tinggal mengaku sakit, dan mereka datang menjemputmu.
Tentu saja kau memang sakit. Semua orang sakit pada masa itu. Ada yang sakit paru-parunya karena debu. Ada yang sakit perutnya karena makanan yang tak pernah cukup. Ada yang sakit kepalanya karena terlalu lama menghitung utang. Ada yang sakit hatinya karena menyaksikan anaknya tidur sambil menggigit ujung baju.
Tapi sakitmu berbeda.
Sakitmu rapi.
Sakitmu bisa dibuktikan.
Sakitmu punya tanda tangan dokter.
Sakitmu punya ruang tunggu berpendingin.
Sakitmu punya map biru, nomor antrean, dan seseorang yang membisikkan, “Tenang saja, Anda termasuk prioritas.”
Mereka mengirimmu ke bawah tanah dengan sejuta wanti-wanti yang sampai sekarang sebenarnya tak kau mengerti. Jangan panik. Jangan mengetuk. Jangan menghitung waktu. Jangan percaya suara-suara dari luar. Jangan menyesal. Jangan membuka sebelum tiba. Jangan menyebut ini kematian.
Pesawatmu, atau peti matimu, atau apa pun itu namanya, dilengkapi dengan beberapa cemilan yang rasanya sebenarnya enak. Terlalu enak malah, untuk sesuatu yang disediakan bagi orang yang mengaku ingin selamat dari dunia yang kelaparan. Kau mengunyahnya pelan-pelan dalam gelap. Menghitung setiap remah. Mendengarkan tanah bergerak di sekelilingmu.
Kau ingat menunggu beberapa lama sampai akhirnya pesawatmu itu sampai ke bulan.
Bodohnya, tak ada cara untuk keluar kecuali dengan menghancurkannya dari dalam.
Kau sempat berpikir siapa yang mengajari bayi ayam untuk mematuk cangkangnya sendiri sampai retak.
***
Di sini awalnya aman.
Tenang.
Sendiri.
Tersembunyi.
Begitu tenang sampai kau akhirnya curiga: jangan-jangan sejak awal ketenangan memang cuma nama lain dari ketiadaan.
Kau berjalan di antara rumah-rumah yang tak selesai dibangun. Di antara pintu-pintu yang mengarah ke kamar kosong. Di antara sumur-sumur yang digali terlalu dalam oleh orang-orang yang ingin menyebut kematian sebagai perjalanan. Kau menemukan nama-nama lama tertulis di dinding. Ada yang ditulis dengan arang. Ada yang digores dengan kuku. Ada yang hanya berupa bekas dahi di tanah, menghitam oleh doa.
Mereka semua pernah sampai di sini.
Mereka semua pernah mengira sudah berhasil pergi.
Lalu satu demi satu, mereka benar-benar pergi.
Kau akhirnya paham bahwa kesepianlah yang membunuh teman-temanmu. Atau barangkali bukan kesepian (monster? Entahlah). Barangkali juga yang membunuh mereka adalah pengetahuan sederhana bahwa dunia yang mereka tinggalkan tetap rusak, tetap lapar, tetap terbakar, sementara mereka bersembunyi di bawah nama bulan dan menyebutnya keselamatan.
Kau ingin mengatakan bahwa kau tak seperti mereka.
Tetapi bayang-bayang di lututmu makin erat, dan di balik pelukannya kau mendengar suara-suara yang tak sepenuhnya suara. Mereka datang dari dinding, dari lantai, dari celah jendela, dari dalam mulutmu sendiri.
Kau masih punya air waktu itu.
Kau masih punya kendaraan waktu itu.
Kau masih punya seseorang yang bisa kau telepon waktu itu.
Kau masih punya rumah yang bisa kau tinggalkan waktu itu.
Kau masih punya pilihan waktu itu.
Sementara itu, laba-laba tadi telah memenuhi langit-langit dengan benangnya yang berkilau. Sejenak kau terpikir untuk mati dibelit sarang laba-laba. Itu terdengar menarik. Menakutkan, tapi menarik. Tapi bagaimana cara meminta laba-laba memilin tubuhmu hingga putus napasmu? Bagaimana cara meminta sesuatu yang kau lukai agar bersedia menjadi jalan pulangmu?
Bayang-bayang di lututmu naik hingga menutupi mulut.
Kau bisa merasakan hangat napasmu sendiri.
Kering.
Seumpama induk semang kucing yang menenangkan bayi-bayinya, kau mengeluarkan bunyi ssshh ssshh yang merayap pelan di telingamu sendiri. Kau tak tahu siapa yang sedang kau tenangkan. Dirimu, bayang-bayang itu, atau dunia yang selama ini kau tatap dari balik kaca tebal sambil berkata, “Kasihan sekali mereka.”
Namun kini, dapat kau rasakan bayang-bayang itu justru makin kalut.
Rekat.
Merenggut.
Pelan-pelan kau merasakan keengganan untuk terus bersama. Bukan darimu. Dari mereka. Bayang-bayang itu seperti jijik berada terlalu dekat dengan tubuh yang pernah memakai ketakutan sebagai tiket. Ia menggeliat, meleleh, membasahi dada dan perutmu. Lalu mengalir ke lantai kamar, menetes pelan-pelan seumpama cat basah yang sayangnya tak kunjung mengering.
Kau menangis.
Atau sesuatu yang lain menangis.
Sulit sekali membedakannya.
Air mata, di tempat ini, tak jatuh dari mata. Ia keluar dari hal-hal yang tak selesai dikuburkan.
Kau mencoba bangkit.
Kakimu gemetar. Bukan karena lapar. Atau haus. Melainkan karena tanah di bawahmu mulai berdenyut. Awalnya pelan, seperti seseorang mengetuk pintu dan jendela dari sisi lain mimpi. Lalu makin keras. Dari jauh, terdengar retakan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Disusul suara yang lebih banyak. Tanah menggeliat. Dinding berderak. Langit-langit menjatuhkan debu. Jaring laba-laba berkilau seperti peta yang tiba-tiba mengingat semua jalan.
Di luar, bulan tak lagi sepi.
Dari tanah yang retak, bangkai-bangkai pesawat lain mulai terbuka. Rumah-rumah kecil dari batu dan sunyi mengangkat punggungnya. Pintu-pintu yang dulu tak punya gagang kini terkuak dari dalam. Potongan-potongan bayang-bayang berkilauan tiada henti, bukan turun dari langit seperti yang semula kau kira, melainkan naik dari bawah, dari lubang-lubang yang selama ini kalian sebut tempat berlindung.
Mereka naik dengan bentuk yang berbeda-beda.
Ada yang tak menyerupai apa pun, hanya gelap yang gemetar, seolah selama hidupnya bahkan bayang-bayang pun tak sempat menjadi miliknya sendiri.
Kau memegang dada.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke bulan, kau merasa tak sendirian.
Meski sebenarnya rasa itu tak jua membuatmu lega.
Sebab ternyata, tak sendirian berarti akan ada begitu banyak saksi.
***
Laba-laba di langit-langit turun perlahan. Ia berhenti tepat di hadapan wajahmu. Beberapa pasang matanya memantulkan sesuatu yang kecil dan berwarna. Kau mengira itu api. Atau bintang. Atau lubang lain yang lebih jauh. Entahlah.
Ketika kau mencoba menatap lebih dekat, sudut matamu melihat kupu-kupu tadi berada di luar jendela. Masih hidup.
Sayapnya robek sedikit di bagian tepi, tetapi jelas ia masih hidup.
Ia hinggap di ambang jendela, membawa debu halus yang bercahaya. Dari tubuhnya yang kecil, jatuh serpih-serpih warna ke lantai. Biru. Jingga. Ungu yang hampir hitam. Warna-warna yang menyentuh bayang-bayang yang meleleh dari tubuhmu. Dan untuk beberapa saat, gelap yang menggenang di lantai tak lagi tampak seperti hukuman.
Namun entah mengapa, di hadapan tanah yang terbuka dan bayang-bayang yang bangkit, kupu-kupu itu menyala.
Awalnya kecil sekali.
Tapi menyala.
Kupu-kupu itu menggerakkan sayapnya.
Sekali.
Dua kali.
Seperti memberi isyarat.
Atau seperti mengingatkan bahwa ada makhluk yang pernah kau bebaskan dari jaring ketika kau bahkan tak sanggup membebaskan dirimu sendiri dari rasa takut.
Bayang-bayang aslimu, yang sejak tadi murung di dinding, perlahan turun. Ia tak lagi tampak cemburu. Merambat ke lantai, melewati genangan gelap, lalu naik ke punggungmu. Dingin mula-mula. Lalu hangat. Lalu sakit. Kau terhuyung, mencengkeram kusen jendela. Dari punggungmu, sesuatu terbuka.
Sayap burung?
Yang jelas bukan sayap malaikat.
Hanya dua lembar bayang-bayang tipis, robek di beberapa bagian, berkilau oleh debu kupu-kupu dan benang laba-laba. Sayap yang tak pantas disebut indah, tetapi cukup untuk mengangkat sesuatu yang selama ini terlalu berat disebut penyesalan.
Di luar, suara-suara makin ramai.
Bukan jerit.
Bukan tangis.
Lebih menyerupai tarikan napas panjang dari seluruh bumi (atau bulan? Entahlah).
Kau melihat kuburan-kuburan terbuka.
Kau melihat mereka bangkit. Kau melihat orang-orang yang dulu tak sanggup membeli jalan ke bulan kini berdiri lebih tegak daripada mereka yang menggalinya diam-diam. Kau melihat wajah-wajah.
Kini mereka bukan kelompok apa pun.
Mereka manusia.
Dan kau, yang selama ini menyebut dirimu manusia terakhir, tiba-tiba merasa bukan yang terakhir.
Mungkin bukan pula yang paling manusia.
Pendar matamu bercahaya.
Ya, kau merindukan rumahmu nun jauh di sana.
Bukan rumah yang kau tinggalkan.
Bukan rumah yang bisa dibeli, dikunci, diwariskan, atau dijual ketika banjir mencapai lutut.
Melainkan rumah yang sejak dulu gagal kau tinggali dengan sepenuh-penuhnya hidup.
Kau menoleh sekali lagi ke dalam kamar. Pada cemilan yang bungkusnya masih terlipat rapi. Pada dinding yang mencatat namamu tanpa ejaan. Pada laba-laba yang kini diam di tengah jaringnya. Pada genangan bayang-bayang yang perlahan surut ke arah pintu. Pada dirimu yang sebentar lagi mungkin harus menjawab untuk semua yang pernah kau sebut pilihan.
Kupu-kupu itu terbang lebih dulu.
Kau putuskan mengikutinya.
***


