Radio

“Selamat malam,” penyiar bersuara serak itu memulai acaranya. Ini siaran favoritku. Aku mengencangkan volumenya. Meski harus berhati-hati agar tak membangunkan Mom di lantai atas. Semakin tua pendengarannya justru semakin tajam. “Pakai earphone-mu. Kita tak ingin orang lain mendengar pembicaraan kita.” Aku tersenyum malu. Penyiar itu memang senang begitu, seakan-akan pendengarnya sedang berbincang privat dengannya. Aku pasti melakukannya jika saja earphone-ku tidak disita Mom. Dia bilang aku bisa … Continue reading Radio

Tak Semestinya

“Yang warna hitam?” Aku mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Hendi menjulurkan kepala dari balik pintu kamar mandi. “Ya. Yang itu.” Sejurus kemudian ia keluar dari kamar mandi. Air masih menetes-netes dari rambutnya. Ia mengalungkan handuk ke leher, menjaga agar kaos putihnya tidak basah. Kemudian ia mendekati jendela, melihat ke luar. “Lama juga hujannya. Apa kita berangkat saja?” ia melirikku sekilas. Aku mengangkat bahu. … Continue reading Tak Semestinya