Most Used Categories

Tag: cerpen harun malaia

CERPEN

Kopi yang Meledak

Bagi mayat-mayat hidup itu, waktu minum kopi adalah kebahagiaan yang tak terganti. Untuk sesaat yang tak lama, mereka akan kembali merasakan jadi manusia.  Dua kali sehari: jam tujuh pagi, dan sore saat matahari hampir terbenam. Masing-masing dua jam. Itu adalah waktu yang diizinkan untuk minum kopi. Meski sebenarnya mereka ingin minum lebih banyak dari itu, sayangnya, itu bisa berarti kematian—dalam arti harfiah. Baik dari sisi manusia, maupun mereka nantinya. Akan kujelaskan detilnya sebentar lagi.  

CERPEN

Patak Hanto*

Dengan debaran dada yang makin kencang, kau seret langkahmu mendekati salah satu toko dengan tulisan besar menyala di persimpangan jalan itu. TOKO KUDA PONY—huruf Y-nya sudah terbalik, kemungkinan lepas paku bagian atasnya. Bangunan di samping kanan-kirinya tampak gelap, membuat toko itu semakin mencolok. Beberapa puluh langkah sebelum sampai di sana, kau berhenti. Menimbang-nimbang. Menajamkan pandangan.  Kau yakin melihat sesuatu bergerak di dalam sana.  Apakah itu bayangan yang tadi? Kau sudah bersiap untuk kembali berlari.  Namun

CERPEN

Terbakar

LIDAHNYA hampir terbakar.  Ia tahu teh itu panas namun tak mengira sepanas itu. Buru-buru ia meletakkan gelas dan menyeka sudut bibir. Teh sialan. Makian yang kemudian segera ia sesali karena kini berarti ia tak bisa meminumnya sama sekali.  * Sesuatu yang disumpahi akan membawa bencana. Demikian berulang ibunya katakan sambil memukul pantatnya di kamar tidur saat ia kedapatan menyentuh tubuhnya diam-diam.  Usianya tiga belas saat darah itu pertama keluar.  Roknya berwarna merah jadi ia sama