Most Used Categories

Kopi yang Meledak 1
CERPEN

Kopi yang Meledak

Bagi mayat-mayat hidup itu, waktu minum kopi adalah kebahagiaan yang tak terganti. Untuk sesaat yang tak lama, mereka akan kembali merasakan jadi manusia. 

Dua kali sehari: jam tujuh pagi, dan sore saat matahari hampir terbenam. Masing-masing dua jam. Itu adalah waktu yang diizinkan untuk minum kopi. Meski sebenarnya mereka ingin minum lebih banyak dari itu, sayangnya, itu bisa berarti kematian—dalam arti harfiah. Baik dari sisi manusia, maupun mereka nantinya. Akan kujelaskan detilnya sebentar lagi.  

“Kau ingat mayat Alfred tempo hari? Astaga. Aku bersumpah belum pernah ada yang lebih hancur lebur daripada itu,” cetus Ernesto. 

“Bahkan hatimu?” 

Olokanku itu berbuah tonjokan kecil di perut. Aku tergelak melihat Ernesto yang cemberut. 

“Jikapun aku jadi mayat hidup—amit-amit!” dia lekas mengetuk meja dapur tiga kali,”aku yakin hatiku tak akan pernah benar-benar mati.”

Ya, semoga saja. Aku berdecak dalam hati. Aku yang mati kalau harus melayani sendiri.

Tak banyak waktu untuk bercanda. Kulirik jam bulat besar di depan palang pintu. Tiga puluh menit lagi. Aku bahkan sudah bisa mencium baunya! Mereka pasti sudah berjejer di gang-gang sempit tempatnya biasa bersembunyi. Mulai dari Jalan Q, hingga Lorong T, mayat-mayat hidup itu menguasai jalanan ibukota. 

Ernesto sepertinya mencium aroma yang sama. Dengan gerak otomatis, dia membuka pintu lemari sudut kanan atas. Menarik peti aluminium dan mengeluarkan masker standar untuk melayani sarapan mayat hidup. Aku sendiri merobek bungkusan paket hitam yang bersandar sejak tadi di meja dapur. Sepasang hazmat berwarna kelabu. Kutunggu sampai Ernesto memberikan masker. 

Seperti robot, kami berdua mengenakannya lapis demi lapis. 

Maskerku beraroma lemon, untuk sesaat aku merasa nyaman. Meski sebentar lagi, aroma hazmat itu pasti mengalahkannya. 

Bau bangkai trenggiling. Demikian tertera di bagian belakang leher. Ernesto tergelak.

“Saat kupikir mereka tidak bisa lebih kreatif!”

Dua tahun sudah, virus aneh menyebar di udara dengan cepat. Mayat bergelimpangan tanpa sempat dikubur. Seminggu setelahnya, mereka bangkit dan mulai mengorek-ngorek sampah. Dan ketika sampah habis, sesuai dugaan, mereka mengejar makhluk hidup. Mulai dari hewan, kini juga manusia. Kota makin bau tak terperi. Manusia yang berhasil bertahan, mengungsi di balai kota, membangun benteng pertahanan terakhir yang mereka sebut Gelembung. 

Nama yang tak bisa lebih pas.

Dalam Gelembung, para ilmuwan berlomba dengan waktu, menemukan formula masker yang pas untuk mencegah penularan. Vaksin tak mungkin dilakukan mengingat hampir semua hewan coba mati mengenaskan—untuk kemudian bangkit di hari ketujuh, sungguh menjengkelkan. 

Satu-satunya yang bisa menenangkan mayat-mayat itu, adalah kopi. 

Itu pun diketahui tanpa sengaja. 

Suatu sore, mayat-mayat itu menyerbu sebuah kafe yang dikelola sepasang kakek-nenek rabun senja. Mungkin mereka sudah bosan hidup jadi membuka kedai adalah pilihan yang cerdas. Drone patroli kebetulan melintas dan segera mengirimkan sinyal darurat untuk menyelamatkan dua sosok panas—drone tersebut memindai suhu tubuh. Gelembung menangkap sinyal itu dan segera melepaskan dua tim penyelamat. 

Untuk kemudian membatalkannya. 

Karena semenit kemudian, drone mengirimkan pesan selusin sosok panas sedang berkumpul di kedai itu. Tiga menit kemudian, pesan sepasang sosok panas kembali masuk. Dan saat film dalam kamera drone tersebut diperiksa, diketahui bahwa kakek-nenek itu menyuguhkan kopi. 

Mayat-mayat di kafe itu sempat menunjukkan kehidupan untuk sesaat. Lalu mati, untuk selamanya. Berita itu segera menggemparkan kota. Yang jadi masalah tentu saja, mencari biji kopi dalam jumlah yang banyak, sebelum seisi kota terkontaminasi. Harga kopi melonjak drastis. Tak ada yang mengalahkan pasarannya yang jauh di atas emas permata. Belum lagi, sekali pun biji kopi berhasil didapatkan, mencari formulasi seduhan kopi yang benar-benar dapat membunuh mayat hidup, susah sekali. 

Satu sendok teh kopi. Satu sendok teh gula. Air panas suhu 95 derajat Celcius tepat—tidak kurang tidak lebih. Disajikan dengan susu tiga sendok makan. 

Sepertinya sederhana, sampai kemudian terbukti bahwa racikan kopi yang salah, akan menyebabkan mayat-mayat hidup itu kebal kopi untuk beberapa waktu. Laboratorium Gelembung menemukan bahwa waktu kebal terlama yang pernah tercatat adalah dua puluh sembilan hari. Mayat hidup tak akan bisa dihancurkan setelah mereka kebal kopi, dan selama itu pula, mereka adalah penyebar virus yang paling ganas.

Mayat-mayat hidup itu pun sepertinya mengerti bahwa kopi, dapat menghidupkan mereka untuk sesaat, karena mulai banyak di antara mereka berbaris untuk merasakan beberapa menit menjadi manusia, lalu meninggal untuk selamanya. 

Tentu saja jika racikan kopinya tepat. Dan di sinilah, kami berdua berperan. 

*** 

Aku dan Ernesto, adalah dua peracik kopi yang lulus dengan nilai terbaik. 1000/1000. Itu nilai Ernesto. Aku sendiri hanya keliru satu kali saat latihan. Peracik yang lain masih terlalu jauh di bawah kami. Gelembung tak berani mengambil risiko. Maka, di sinilah kami setiap hari. 

Dua kali sehari, di kafe mobile: MINUM KOPIMU, LEDAKKAN KEPALAMU. 

Selebaran dibagikan, dan ajaib, mayat-mayat hidup itu cukup banyak yang memilih ‘kematian’. Padahal dalam brosur itu jelas tertera: kopimu dapat menyebabkan kembalinya fungsi kesadaran selama 2 menit 47 detik, dan selanjutnya, kau akan mati selamanya. Mungkin Ernesto benar, masih ada hati yang tersisa pada mayat-mayat itu. 

Drone pengintai pagi ini masuk lewat pintu khusus di atas jendela, sistem suaranya menyala otomatis. Benda itu terbang dengan dengung nyamuk yang malas di atas kepala Ernesto. 

“Selamat-pagi,” ucapnya dengan nada robot yang menjemukan. 

Ernesto melakukan high-five virtual padanya. Mila, pengendali drone jarak jauh itu, adalah pacarnya. Mila tahu aku benci suara robot, setiap hari dia mengatur suara drone itu menjadi versi paling mengesalkan. 

“Kau-terlihat-buruk-pagi-ini,” itu sapaan untukku. 

Aku menirukan gerakan tak senonoh padanya. Ernesto mengacungkan jari tengah padaku. 

Mila mengirimkan gambar terbaru. Mayat-mayat itu sudah antre tiga blok dari kafe. 

Aku melirik jam di depan pintu. Tujuh menit. 

Aku belum cerita permasalahan tugas ini, yang pertama adalah: kopi tak boleh dibikin sebelum pemesannya tiba. Enam setengah detik, setelah kopi selesai diseduh, adalah waktu menghidangkan terbaik. Lebih dari itu, efek kopi menurun drastis, dan yakinlah, hal terakhir yang diinginkan adalah mayat hidup kebal kopi. Kuulangi, mayat hidup kebal kopi—di dalam kafe. 

Mereka akan mengamuk bagai banteng, entah darimana datangnya kekuatan itu. 

Untuk kemungkinan terburuk itu, aku dan Ernesto dibekali hazmat berlapis, virus tak akan mampu menembusnya. Lapisan kaca anti peluru setebal sepuluh sentimeter juga memisahkan aku dan mayat-mayat hidup itu. 

Hal terburuk berikutnya: mengenali pemesan kopi. 

Ernesto menangis tak bersuara bulan lalu saat ibunya datang. Mata perak perempuan itu bercahaya selama beberapa saat saat menenggak kopi yang diseduh putra satu-satunya. Aku yakin Ernesto ingin berpaling tapi kuakui mataku panas saat melihat kepala Nyonya M, ibu Ernesto, meledak seperti semangka jatuh di aspal, dengan serpihan otak kehitaman yang sempat menempel di dinding kaca. 

Aku sendiri, sedikit beruntung karena tak punya keluarga. Ayah ibuku sudah lama mati. Satu-satunya orang yang kukenal, adalah sepupuku Sonego. Orang tua Sonego sendiri juga sudah meninggal dalam kecelakaan pabrik. Kami berdua diasuh Panti.  

Nama Sonego tak pernah terdaftar di dalam penghuni Gelembung. Sehingga hampir tak mungkin ia bertahan. Aku sendiri sudah mengikhlaskannya. Meski tentu saja, harapan suatu hari dapat menemuinya kembali sebagai manusia, beberapa kali terlintas dalam kepala. Sonego adalah tukang las yang handal, mungkin saja ia sempat membangun bentengnya sendiri di luar sana.

Sebenarnya ada hal terburuk berikutnya, tapi itu tak pernah terjadi. Yakni kalau kami kehabisan kopi, sebelum setiap mayat hidup yang melewati pintu hancur jadi debu. Sejauh ini, kafe LEDAKKAN KEPALAMU selalu mobile dan berhasil menemukan kumpulan mayat dalam jumlah tak terlalu banyak. Salah hitung pembeli, kematian menanti kami. 

*** 

Jam tujuh berdentang. Drone Mila melesat ke seberang ruangan, dari sana ia dapat merekam segalanya. Ernesto menekan tombol pembuka pintu truk. Langkah menggesek aspal terdengar mendekat. Aku menghirup dalam-dalam aroma lemon pada maskerku. 

Hazmat suit sengaja diberi aroma aneh karena para ilmuwan ingin melihat adakah bau-bauan tertentu lain yang juga mempengaruhi mayat hidup, selain kopi tentunya. Selama bertugas, aku pernah memakai aroma tahi kucing, muntah bayi, selokan mampet, air ketuban. Sebutlah hal-hal busuk lainnya. Aku dan Ernesto sudah khatam. 

Bangkai trenggiling hari ini sepertinya tak berefek apa-apa. Mayat pertama bergerak lambat ke depan kaca. Liur, atau sesuatu yang menyerupai liur menetes terjuntai dari pinggiran bibirnya yang robek setengah. 

KO-PI. Parau ia meminta. 

Ernesto membacakan consent secara cepat—sejujurnya aku tak pernah mengerti mengapa Gelembung tetap menerapkan aturan itu: mayat-mayat harus mengerti bahwa kepala mereka berisiko akan meledak. 

YA. Jawabnya. 

Ernesto mengangguk padaku. Aku menyiapkan gelas pertama. Satu sendok. Satu sendok. Air panas. Tiga sendok. Aduk-aduk-aduk. 

Ernesto menekan timer. Satu. Dua. Tiga. 

Mila tiba-tiba berkedip. “Ke-bo-cor-an!”

Kopi diteguk. 

“Menjauhlah selagi sempat. Para mayat sudah menyiapkan perangkap untuk kalian hari ini. Sementara kalian di sini, mereka sudah di belakang. Menggali.” 

Seperti bola lampu yang tiba-tiba putus kabelnya, mayat itu menggelepar dan hangus. Aku dan Ernesto berpandangan, tak mengerti maksud ucapannya. 

Mila masih berkedip-kedip. “Ke-bo-cor-an!” 

Ernesto mengernyit, mengetikkan sejumlah kode di layar komputernya, berusaha menghubungi Mila secara langsung dan dua arah. Di luar, barisan mayat tampak mulai menumpuk. Mereka tak suka menunggu kopinya disiapkan. 

“Halo, Mila?”

“Ernesto! Gelembung diserang pagi ini. Segerombolan bandit masuk dan mencuri persediaan kopi!” 

Mila mengirimkan video pengintai. Sesosok wajah itu tertangkap kamera. Jantungku berdetak lebih kencang. Sonego. 

Bandit mengincar kopi untuk dijual dengan harga beratus kali lipat. Entah untuk apa uangnya mereka gunakan. Aku memeriksa persediaan kopi yang kami punya. Menggeleng pada Ernesto. 

“Hanya seratus.”

Itu artinya, kami tak mungkin menyelesaikan tugas hari ini. Jika normalnya kami akan terus melayani selama dua jam hingga mayat-mayat tak lagi bermunculan, sementara pesanan biji kopi dikirimkan dari Gelembung; kali ini, seratus porsi kopi akan segera habis bahkan sebelum satu jam. 

“Kirimkan bala bantuan.” Ernesto memberikan kiss-bye pada Mila.

Oh yeah. Mungkin untuk pertama kalinya, aku dan Ernesto akan benar-benar bertarung dengan mayat-mayat hidup ini. Aku menggeretakkan jari. Sonego sialan.   

Ernesto menarik laci paling bawah. Barisan senapan runduk semi otomatis berjejer di dalamnya. Darahku berdesir. 

Hmm, mungkin sebelum itu, waktunya minum kopi! 

*** selesai *** 

Tinggalkan Balasan




%d blogger menyukai ini: