Cinta dan Sebatang Rokok

“Belum tidur?” Aku sampai menjatuhkan korek api dari tanganku. Tak kusangka Nenek masih terjaga. Ini sudah lewat satu jam dari tengah malam. Cepat kusembunyikan rokok di tangan kiriku. “Eh, belum.” Aku menggeleng. Memaksakan tersenyum. Nenek balas tersenyum. Sama sekali tidak terpaksa kelihatannya. Ia kemudian menepuk-nepuk pundakku. Aku tak berani memperkirakan maksudnya. Aku memilih untuk tinggal bersama dengan Nenek daripada harus memilih antara Ayah atau Ibu … Lanjutkan membaca Cinta dan Sebatang Rokok

Waktu Berhenti di Matanya

Jam berapa? Sekilas tak ada yang janggal dari jawabannya atas pertanyaanku barusan. Ia menjawab ringkas, lalu tersenyum, sebelum sekali lagi menatap jam tangannya. Yang lain mungkin mengira ia sedang memastikan jawabannya tak keliru.  Tapi aku tidak.  Aku tahu pasti alasannya. Ia sedang mengenangnya. Wanita yang pernah mengisi hatinya, dan waktunya. Aku menyadarinya saat ulang tahun hari pernikahan kami, ia menyimpan hadiah jam tangan yang kuberikan … Lanjutkan membaca Waktu Berhenti di Matanya

Kelabu Atas Langit

“Kau mau pergi?” Desingan mesin jahit itu berhenti. Aku yakin wanita itu sedang menatapku sekarang. Tapi kubiarkan saja. Kuteruskan memakai kaus kakiku. “Ada wawancara kerja.” jawabku datar. Mesin jahit tadi kembali berdesing. “Jam berapa kau akan pulang?” Aku menarik nafas panjang. Kupakai sepatuku. “Mungkin malam.” Kembali suara desingan itu berhenti. Ekor mataku menangkap bahwa wanita itu bangkit dari belakang mejanya. “Kau akan pergi sekarang?” “Ya.” … Lanjutkan membaca Kelabu Atas Langit