Sehidup Semati

“Apa kabarmu?”  Ia mengerling, mengangkat bahu.  Aku mengangguk paham, tak ada jawaban ‘baik’ bagi pesakitan, kecuali saat mereka dibebaskan.  “Aku membawakan bacaan,” kudorong bingkisan di atas meja. Kulihat ia mengerling malas di kursinya, jelas tak berminat berbincang.  “Ibu bilang kalau lagi-lagi kau tak membalas suratnya, ia akan datang sendiri.”  Kali ini ia mengangkat wajah, sejajar dengan pandanganku. Aku serasa sedang selfie dengan kamera depan berfilter … Continue reading Sehidup Semati

Cinta dan Sebatang Rokok

“Belum tidur?” Aku sampai menjatuhkan korek api dari tanganku. Tak kusangka Nenek masih terjaga. Ini sudah lewat satu jam dari tengah malam. Cepat kusembunyikan rokok di tangan kiriku. “Eh, belum.” Aku menggeleng. Memaksakan tersenyum. Nenek balas tersenyum. Sama sekali tidak terpaksa kelihatannya. Ia kemudian menepuk-nepuk pundakku. Aku tak berani memperkirakan maksudnya. Aku memilih untuk tinggal bersama dengan Nenek daripada harus memilih antara Ayah atau Ibu … Continue reading Cinta dan Sebatang Rokok

Kasih, ini yang penghabisan.

Apa yang lebih berat daripada terus menerus mengingatmu? Terpaksa aku. Dalam tiap rinai yang basah. Aku gelisah. Tak ayal lagi rindu yang membuncah. Pecah tak berkesudah. Di bawah hujan sore itu. Waktu seakan tak pernah berlalu. Hanya ada kau… lalu aku. (1) Adam menepikan sepeda motor dengan tergesa. Bersungut-sungut dia memaki dalam hati. Joni, abangnya yang pelupa, pasti tidak langsung mengembalikan jas hujan ke dalam … Continue reading Kasih, ini yang penghabisan.